Press "Enter" to skip to content

14 Persen Pemilih di AS Mungkin Berubah Pikiran

Tinggal 48 jam menjelang pemilu, kedua kandidat presiden Amerika Serikat, Minggu (2/11), memacu kampanye di negara-negara bagian kunci. Ini adalah kesempatan terakhir meraih momentum.

Kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama, berkampanye di tiga kota di Ohio, negara bagian krusial bagi kedua kandidat. Rival Obama dari Partai Republik, John McCain, memilih berkampanye tengah malam di Florida, setelah menghabiskan hari di Pennsylvania dan New Hampshire, Sabtu.

Bagi Obama, ini adalah waktu untuk “menyerbu” masuk ke jantung Republik. “Angin baik bertiup di belakang kita,” kata Obama, Sabtu (1/11).

Bagi McCain, ini adalah kesempatan terakhir untuk membujuk pemilih agar membelot dan memberinya kemenangan. “Kita tertinggal beberapa poin, tetapi kita bangkit. Saya tidak takut berjuang. Saya siap dan kalian akan berjuang bersama saya,” kata McCain.

Kubu McCain akan mengisi hari terakhir kampanye dengan kunjungan ke sekitar delapan negara bagian sebelum berhenti di Arizona, tempat asalnya. Obama berencana menghabiskan hari terakhir kampanye di Florida, North Carolina, dan Virginia, sebelum menuju Chicago, Illinois.

Kampanye pemilu presiden kian menyempit di negara-negara bagian yang semula adalah pendukung Republik atau negara bagian yang belum pernah memilih Demokrat, seperti Virginia, Indiana, dan North Carolina. Obama mencoba merebut negara bagian itu dari McCain, sedangkan McCain mencoba mempertahankan dukungan.

Menjadi ungu

Hal itu sangat penting jika melihat besarnya pemilih mengambang dan bertambahnya jumlah negara bagian mengambang yang menjadi ajang perebutan suara.

Ada sekitar 75 juta orang yang tidak memberikan suara dalam pemilu pendahuluan. Pilihan mereka bisa memberikan “kejutan” tersendiri pada 4 November.

“Saya secara tradisional memang pendukung Republik dan saya adalah seorang konservatif. Namun, kali ini saya punya pilihan lain. Hati saya memang sempat terombang-ambing, tetapi saya sudah mencoblos untuk Obama,” kata Jason Edmesten, akuntan di perusahaan penerbit harian Greenville Sun, pekan lalu.

“Tennessee adalah wilayah merah (Republik), tetapi kali ini menjadi ungu karena terjadi pembauran yang kuat dengan pendukung biru (Demokrat),” kata Prof Dr John King, dosen ilmu komunikasi di East Tennessee State University (ETSU).

Berdasarkan jajak pendapat oleh Associated Press/Yahoo, 1 dari 7 pemilih atau sekitar 14 persen mengatakan mereka belum menentukan pilihan atau mungkin akan berubah pikiran.

Kubu kampanye McCain menyatakan, senator Arizona itu bisa menutup selisih perolehan dari Obama di hari terakhir kampanye. Seorang pembantu McCain secara pribadi mengungkapkan, jajak pendapat internal di kubu McCain menunjukkan dia berhasil menutup selisih dengan Obama pada hari terakhir kampanye karena hanya tertinggal 4 poin.

McCain berharap bisa menang di negara-negara bagian yang dimenangi Presiden George W Bush pada pemilu tahun 2004. Dia juga berharap bisa menang di Pennsylvania, pendukung Demokrat, jika ingin berhasil ke Gedung Putih.

Obama sendiri tidak ambil pusing dengan hasil-hasil jajak pendapat, terutama yang muncul beberapa hari terakhir. “Saya tidak pernah khawatir dengan hasil jajak pendapat. Haruskah saya khawatir dengan itu?” ujarnya.

Kian panas

Hari-hari terakhir kampanye menjadi kian “panas”. Aksi saling serang dengan kata-kata yang menyudutkan terus berlanjut. Topik kampanye mendominasi media di AS dan menenggelamkan isu lain.

Kubu Obama menayangkan iklan yang memperlihatkan dukungan Wakil Presiden Dick Cheney kepada McCain. Iklan kubu Obama itu menegaskan bahwa McCain benar-benar tidak lebih dari perpanjangan duet Bush-Cheney.

Dalam acara “Saturday Night Live” di NBC, McCain menegaskan dirinya sebagai tokoh maverick, sesuatu yang lain dari Presiden Bush.

Kubu Republik juga mengingatkan warga agar waspada pada Demokrat. Alasannya, jika Demokrat menang, akan ada Presiden Obama (Demokrat), Ketua Mayoritas Senat AS Harry Reid (Demokrat) dan Ketua DPR (House of Representative) Nancy Pelosi (Demokrat). Trio ini akan menaikkan pajak dan meningkatkan pengeluaran pemerintah yang merusak ekonomi.

Namun, para ekonom ternama AS, seperti Joseph Stiglitz dan Ben Stein, mengatakan, program ekonomi Demokrat lebih pas ketimbang program ekonomi Republik. Kebijakan ekonomi Republik dalam delapan tahun terakhir telah membangkrutkan negara dan merusak korporasi karena kebijakan yang liberal.(AP/AFP/FRO) (Kompas)