An error occured - you set wrong location or data for your location are unavailable

About Me

Drs. Bernard Simamora, S.Ip, MBA yang bermukim di Bandung sejak bulan Agustus 1986 ini memiliki beraneka atribut yang melekat padanya. Ayah dari Gery Adrian, Arthur Castorius dan Stephen Elbert, dan suami dari Dra. Juniara Marbun ini memang seolah mempunyai energi ekstra, khususnya dalam menempuh pendidikan dan menggeluti beberapa profesi sekaligus.

Selain sebagai pendidik, ia juga insan pers, penulis, pengusaha dan pengamat berbagai masalah sosial dan kemasyarakatan. Bidang ilmunya juga beraneka ragam. Ia Sarjana S1 dari FMIPA Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), ia juga memahami dunia Teknologi Informasi dan Komputer (tanpa pendidikan formal), ia Magister Administasi Bisnis (MBA) konsentrasi pemasaran, ia juga Sarjana S1 Ilmu Pemerintahan dari Universitas Terbuka. Kini juga ia sedang studi Magister Hukum dan Magister Manajemen sekaligus, dan selanjutnya ia bertarget menjadi Doktor (S3) tahun 2012. Selain itu, sejak lama ia telah mengikuti berbagai kursus manajemen tertulis jarak-jauh, serta mengikuti ratusan seminar di dalam negeri.

Sebagai seorang pendidik, ia mendirikan lembaga kursus komputer dan keterampilan profesional lainnya, diantaranya Ganesha College (1991), Ganesha English Course (1991), PIKMI Ganesha (1995), Ganesha Mental Aritmetika (2000), yang hingga kini telah menghasilkan sekitar 32.000 orang tenaga terampil yang kini menyebar di seluruh nusantara dan manca negara.

Selain itu, Bernard Simamora juga mendirikan Yayasan Bhakti Ilmu Pengetahuan Ganesha, mendirikan Perguruan Tinggi, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Ganesha (STMIK GANESHA, 2001), www.stmikganesha.ac.id. Selanjutnya ia juga mendirikan Sekolah Menengah Atas (SMA Taruna Unggul Ganesha Bandung, 2004), , mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi (SMKF Taruna Ganesha Bandung, 2007), dan SMK Teknologi Informasi (2007), www.smk-ti.net. Namun selain sebagai pendiri, ia juga menjadi instruktur, guru dan dosen pada lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan. Pada tahun 2006, ia memilih pensiun dalam usia 39 tahun sebagai Ketua STMIK GANESHA karena merasa sudah waktunya menyerahkan kepimpinan PTS tersebut kepada yang lebih muda dan bersemangat. Namun demikian, ia tetap menggeluti dunia pendidikan sebagai Ketua Dewan Pakar STMIK GANESHA, Ketua Pembina SMA Taruna Ganesha, SMKF Taruna Ganesha, dan SMK-TI Bandung.

Industri media massa kemudian menarik perhatian Bernard Simamora, melalui pendirian PT Pelita Rakyat yang kemudian pada tahun 2004 menerbitkan Harian Umum Pelita Indonesia (www.pelita-indonesia.com), tahun 2005 menerbitkan tabloid lifestyle Pijar Bandung, tahun 2006 menerbitkan media massa khusus online (www.pelitanews.com). Beberapa bulan ia terjun sebagai wartawan lapangan untuk memahami dunia pers secara lebih lengkap, dan kemudian duduk sebagai Pemimpin Umum/Redaksi Pelita Indonesia, Pemimpin Umum Pijar Bandung, Pemimpin Umum/Redaksi www.pelitanews.com. Tidak berhenti di situ, ia bersama Drs. Heri L. Boaz mendirikan Aliansi Penulis dan Wartawan Indonesia (APWI, 2005) dimana ia duduk sebagai Ketua Umum.

Selain bergelut di dunia pendidikan dan media massa, ia juga mengelola kegiatan bisnis. Ia pernah mendirikan berbagai usaha kecil dibidang perbengkelan, konveksi & garmen, pusat pelayanan klipin, biro jasa, dll. Ia mendirikan CV Wahana Bhakti (www.wahanabhakti.com dan www.urugan.com) yang bergerak dalam bidang kontraktor pengurugan, perdagangan umum, suplier material bangunan, dan kontraktor bangunan dan CV Sentra Karya Utama yang bergerak dalam jasa maintenance dan perdagangan komputer serta barang elektronik. Saat ini juga anak perusahaannya mengelola www.tokoglobal.com sebuah toko perkulakan on-line, dan layanan pembuatan situs www.bikinweb.net

Bernard Simamora, dilahirkan di Tapanuli Utara, persisnya di dusun Lumban Baringin desa Sosorgonting Kecamatan Doloksanggul yang kala itu masih bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara pada tanggal 9 Februari 1967 oleh ibunda Sontaria Purba dan ayah Barani Simamora.

Anak kedua dari lima bersaudara ini pertama kali sekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri Sosorgonting hingga kelas 4, dan dilanjutkan SD Negeri 3 Doloksanggul hingga lulus tahun 1980. Selalu bersekolah di sekolah milik pemerintah agar biaya ringan dan saat itu juga tidak ada sekolah swasta yang lebih bermutu dari sekolah negeri.

Tahun 1980, Bernard sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Doloksanggul, dan prestasi akademisnya di sini selalu menjadi juara kelas, dan yang tertinggi ia pernah mencapai juara umum kedua antar kelas dari 8 kelas yang ada.

Tahun 1983, ketika menempuh ujian masuk ke Sekolah Menengah Atas Negeri Doloksanggul, ia mendapat rangking 5 dari seluruh peserta ujian yang berjumlah 900 lebih. Pada tahun 1986 ia diterima tanpa tes di IKIP Medan Jurusan Pendidikan Fisika melalui Jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan). Namun, ia memilih untuk mengikuti Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) di Medan dan memilih Jurusan Fisika FMIPA ITB.

Alhasil, mulai tahun 1986 ia hijrah ke Bandung untuk berkuliah di Jurusan Fisika ITB. Sejak mahasiswa, ia aktif menjadi pengajar ke rumah-rumah dan berbagai lembaga pendidikan, yang kemudian dijalaninya menjadi pendiri sejumlah lembaga pendidikan formal dan informal, mulai dari biro privat sampai aneka jenis pelatihan, mulai dari mendirikan perguruan tinggi hingga sekolah memengah. Semasa kuliah Ia juga menjadi penerima beasiswa Supersemar, Astra Internasional, Sampoerna, dan lain-lain yang menyokong kehidupannya menyelesaikan studi.

Sejumlah bidang menarik perhatiannya kala sebagai mahasiswa. Pada tahun pertama kuliah, sambil menekuni perkuliahan Ia pernah mempelajari ilmu filsafat melalui sejumlah buku teks misalnya karya Eric From, YB Mangunwijaya, dan puluhan karya pengarang lainnya. Namun di tahun kedua Psikologi menyita perhatian Bernard dengan mempelajari sejumlah buku teks. Pada tahun ketiga, ia tertarik pada aspek spritualitas manusia, khususnya mengenai ketuhanan, agama dan iman. Namun di tahun keempat, bisnis menarik perhatiannya.

Bernard mulai gemar menulis ketika pada tahun 1987 tulisannya berjudul “Babon Buyut” dimuat di BERKALA ITB dengan honorarium Rp 25.000,-. Ia makin giat menulis di majalah ilmiah polpuler pada masa itu semisal “Empat Gaya Dasar Alam” di majalah AKU TAHU, “Matematika sebagai Bahasa Ilmu Fisika” di majalah MEKATRONIKA, dan Cerita Pendek di Harian Umum Pikiran Rakyat.’

Bagikan di facebook

Komentar Terakhir