Press "Enter" to skip to content

Aktivitas Kebangkitan Nasional

Dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2008, aktivitas masyarakat yang telah atau akan diadakan terasa sangat berwarna-warni. Ikatan Dokter Indonesia mengimbau kepada sekitar 75.000 anggotanya untuk membebaskan biaya jasa konsultasi medis pada 21 Mei 2008.

Sementara itu, Barisan Pemuda Peduli Rakyat (BPPR), sebuah organisasi nonpartisan yang dimotori para profesional muda, pada 20 Mei akan mengadakan kirab dari Gedung Stovia di Jalan Abdurachman Saleh menuju Tugu Proklamasi, Jakarta. Kirab akan diikuti 370 orang dengan berbagai atribut, seperti berpakaian adat dan membawa bendera Merah Putih.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Fachmi Idris di Jakarta, Minggu (18/5), mengatakan, rencananya, pembebasan biaya konsultasi medis dilakukan pada 20 Mei. Namun, karena saat itu hari libur, diundur pada keesokan harinya.

Pembebasan biaya jasa konsultasi medis ini, lanjut Fachmi, merupakan cara para dokter menghargai jasa dan sejarah pendahulunya, terutama para mahasiswa Sekolah Kedokteran Stovia yang pada 20 Mei 1908 mendirikan Budi Oetomo.

Menurut Fachmi, pembebasan jasa konsultasi medis terutama akan dilakukan para dokter yang berpraktik mandiri. Adapun mereka yang tidak berpraktik mandiri, seperti di poliklinik atau rumah sakit, perolehan dari jasa konsultasi medis pada 21 Mei akan disumbangkan. Ini karena para dokter itu terikat pada aturan tempat mereka praktik.

Fachmi menuturkan, di Indonesia ada 250.000-400.000 orang yang setiap hari pergi ke dokter. Jika jasa konsultasi medis tiap orang Rp 50.000, pembebasan akan mencapai Rp 12,5 miliar-Rp 20 miliar. ”Dengan asumsi ada sekitar 30 persen dokter yang berpraktik nonmandiri, setidaknya akan terkumpul Rp 4 miliar yang akan disumbangkan melalui IDI,” kata Fachmi.

Ketua Umum BPPR Yudhie Rohcitayadi kemarin mengatakan, selain kirab, BPPR juga telah memberikan kredit tanpa bunga kepada pedagang kecil, yaitu setiap orang mendapat Rp 300.000. Kredit ini telah dibagikan kepada 75 orang di Jakarta dan 100 orang di Jawa Barat. ”Kredit ini diharapkan tidak hanya membuat rakyat mandiri secara bertahap. Namun, juga membuat mereka menolak dimanfaatkan oleh kepentingan politik sesaat,” harap Yudhie.

Sementara itu, kemarin para mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta dan kelompok masyarakat lain mengadakan acara ziarah makam tokoh-tokoh Kebangkitan Nasional di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dr Wahidin Sudiro Husodo di Mlati, Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.

Selain TMP Wahidin Sudiro Husodo, ziarah dilanjutkan dengan berkeliling ke TMP Kusumanegara, TMP Wijaya Brata, Kayulawang Purworejo, hingga ke TMP Watu Ceper Ambarawa, Jawa Tengah.

Satu abad Kebangkitan Nasional ini juga dimanfatkan oleh Badan Pendidikan dan Latihan Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Cabang Sleman dengan menggelar diskusi bertajuk ”Mencari Kemenangan dan Kemandirian Bangsa Bersama Rakyat” di Balai Desa Tegaltirto, Berbah, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (18/5). Hadir aktivis muda PDI-P Budiman Sudjatmiko.

Menurut Sekjen PDI-P Pramono Anung, PDI-P melalui sayapnya, yaitu Relawan Perjuangan Demokrasi, akan menggelar rapat akbar Kebangkitan Nasional di GOR Bulungan, Jakarta, Senin (19/5).

Sekretaris Jenderal Partai Hati Nurani Rakyat Yus Usman Sumanegara mengatakan, juga akan menggelar acara memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dengan sejumlah partai baru.

Sementara itu, Ferry J Juliantono dari Front Rakyat Menggugat menyayangkan 100 tahun Kebangkitan Nasional harus dirayakan dengan sejumlah ironi. Yang dimaksud, kata Ferry, pihaknya akan menggelar unjuk rasa yang rencananya diikuti ribuan orang pada 20 dan 21 Mei.

Untuk itu, dia minta maaf jika ada masyarakat yang terganggu oleh aksinya. (A16/A06/NWO)

sumber : kompas