Press "Enter" to skip to content

Golput Harus Turun Gunung Untuk Indonesia Raya

Tanpa bermaksud menggurui siapa pun, temasuk rekan-rekan Golput, saya tergerak untuk membagikan sesuatu yang pernah saya anut. “Be Proactive”, kebiasaan pertama dari 7 kebiasaan manusia paling efektif dalam buku “The Seven Habits of More Efective People” karangan Stephen R. Covey, tampaknya bisa menginspirasi kita untuk menjadi subjek perubahan bangsa ini. “Jika bukan kita siapa lagi, jika bukan sekarang kapan lagi”, merupakan turunan dari be proactive. Ambil inistatif, beri daya pengaruh, ikut kendali, jadi agen perubahan, tunjukkan peran dan masih banyak lagi; merupakan turunan lainnya.

Golput atau Golongan Putih adalah hak politik untuk tidak memilih salah satu dari caleg, partai, kepala daerah atau pun presiden, karena berbagai alasan. Setiap orang yang memilih golput tentu mempunyai alasan, dan alasan apa pun itu, adalah juga hak yang harus dihargai oleh siapa pun.

Kepercayaan rakyat terhadap elite politik, baik di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif hampir mencapai titik nadir. Para pemimpin dinilai tidak lagi berpihak kepada rakyat, dan itu semua mendorong masyarakat apriori. Ketiadaan korelasi langsung antara pilihan politik dan manfaat alias “tidak ngaruh” juga menjadi alasan. Alasan lainnya, meski menjatuhkan pilihan tetap saja tidak merubah apa-apa, alias status quo.

Kasus Akil salah satu top peak menitiknadirkan kepercayaan publik betapa korupnya penyelenggara lembaga peradilan, melengkapi ketidak percayaan publik pada hampir semua lembaga negara setelah menyaksikan betapa korupnya kader-kader partai, khususnga PD, PKS dan PG, hakim-hakim, dan eksekutif di semua tingkatan. Terkuaknya kedok Akil Muchtar, sang RI-9, memang telah menggadai proses demokrasi di sejumlah pilkada makin menurunkan kepercayaan rakyat pada demokrasi yang berlangsung, sampai-sampai merasa tidak perlu berdemokrasi

Selain abuse of power, buruknya pengelolaan negara dan daerah juga membuat kita frustasi dalam bernegara, menjadi alasan kuat untuk golput. Bobroknya pelayanan umum, penegakan hukum, pengelolaan sumber daya alam menyebabkan banjir, buruknya pengelolaan kekayaan alam yang digerogoti negara lain di atas kelemahan pemerintah kita membuat kita, negara kaya tetapi melarat. Belum lagi, kebohongan publik dan kemunafikan penyelenggara tidak henti-hentinya. Kemiskinan yang makin menyiksa sebagian besar rakyat justru diklaim pemerintah sebuah keberhasilan.

Keadaan yang kian memilukan dalam berbagai aspek bernegara, diyakini, telah membuat sebahagian besar rakyat Indonesia kehilangan harapan, alias frustasi. Bahkan, beberapa kalangan berpendapat, bangsa ini sedang berjalan secara “otopilot” beberapa tahun terakhir, bahkan sedang menuju kehancuran.

Namun, akhir-akhir ini telah muncul para “volunteer” atau tunas-tunas bangsa, yang murni, tulus, sederhana, dan totalitas. Beberapa diantaranya telah muncul di permukaan seperti Joko Widodo, Basuki Cahya Purnama, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Anis Bawedan, Tri Rismarini, Ridwan Kamil, Harry Tanusudibyo, dan, saya yakin sejumlah besar generasi muda lainnya yang belum berkesempatan muncul hingga hari ini. Rasa frustasi berubah optimisme. Tampaknya track menuju Indonesia Raya, yakni Indonesia yang memberikan keadilan, kemakmuran, rasa aman, nyaman, dan harmoni bagi rakyatnya, terbuka.

Pnantian munculnya secercah harapan ini, memberi tawaran agar golput turun gunung. Bagaimanapun, cara paling efektif dan konstitusional untuk membenahi carut-marut perpolitikan Indonesia adalah dengan memilih dalam pemilu. Dengan memilih, kita dapat mengganti sistem pemerintahan yang korup dengan yang lebih baik. menjadi pelayan masyarakat jangan sampai disia-siakan. Lilin harapan harus sama-sama kita jaga bersama jangan sampai padam, sebab ia bisa menyalakan kembali lilin-lilin berbangsa lainnya yang terlanjur padam.

Apabila para golput bersama-sama dengan 40% atau 40.794.503 pemilih usia muda turut serta dalam pemilu 2014, maka besar harapan Indonesia Raya terwujud. Berharap, para golput di pemilu-pemilu sebelumnya, atau yang sebelumnya berencana golput meninjau ulang pilihan politiknya, agar lilin harapan kita jaga bersama jangan sampai padam. Ayo, turun gunung, kita lakukan perubahan, bahkan menjadi penggerak pemilih muda menggunakan hak pilihnya.

Pilihan menjadi golput memang hak setiap orang; tetapi adalah pilihan kita juga untuk menjadi agen perubahan, penentu, ambil kendali, dan memberi daya pengaruh bagi bangsa ini, agar tidak menuju kehancuran, tetapi menjadi Indonesia Raya.

Bandung, 28 Januari 2014

Bernard Simamora

lihat di kompasiana.com