Press "Enter" to skip to content

Jejak “Berat” Warisan Bush

Pemerintahan Presiden George Walker Bush yang berlangsung delapan tahun akan segera berakhir dengan berbagai catatan. Banyak pengamat, politisi, dan rakyat Amerika Serikat menilai bahwa presiden AS ke-43 itu adalah presiden terburuk sepanjang sejarah AS.

Tidak mengherankan bila delapan tahun pemerintahannya pun meninggalkan banyak catatan buruk. Konsekuensinya, siapa pun yang menggantikan Bush akan memikul beban berat untuk membersihkan catatan buruk itu.

Bush yang naik menjadi presiden setelah melalui hasil pemilu yang sempat kontroversial karena ketatnya persaingan suara dari lawannya, Al Gore dari Partai Demokrat, sebenarnya mewarisi kondisi sosial-politik dan ekonomi serta citra AS yang lumayan baik. Pemerintahan Presiden Bill Clinton dinilai cukup berhasil.

Akan tetapi, masa kepresidenan Bush lebih banyak dipengaruhi oleh peristiwa serangan teroris 11 September 2001 di New York dan Pentagon. Sebuah lembaran paling hitam dalam sejarah AS modern.

Bush yang tak punya pengalaman kebijakan luar negeri kemudian menetapkan target yang tinggi untuk dirinya dan negaranya. Demokrasi harus diperluas ke seluruh dunia dan memelihara peran AS sebagai satu-satunya adidaya di dunia.

Saat ini, kurang dari tiga bulan dari akhir masa jabatannya, Bush akan turun dengan catatan gagal mencapai target-targetnya itu. Ironinya, Bush bahkan akan pergi dengan meninggalkan krisis ekonomi terburuk sejak Depresi Hebat tahun 1930-an. Muncul kekhawatiran terjadi resesi dan pengangguran.

Irak dan Afganistan

Serangan 11 September 2001 yang menghancurkan menara kembar World Trade Center (WTC), New York, dibalas Bush dengan langkah gegabah menyerang Afganistan dan kemudian Irak. Ironisnya, hingga akhir masa jabatannya dia belum bisa menyelesaikan perang di Irak dan Afganistan, dua medan tempur yang disebutnya sebagai “perang melawan terorisme”.

Bush yang tidak pernah berhenti berbicara soal kebutuhan untuk melindungi AS kini menghadapi tuduhan telah menghancurkan nilai-nilai luhur AS lewat jaringan penjara-penjara rahasianya, juga dengan menyerahkan para tahanan ke penjara yang tak tersentuh hukum di Teluk Guantanamo. Begitu juga dengan praktik-praktik interogasi yang penuh dengan penyiksaan. Alasan melawan terorisme menjadi pembenaran atas praktik tidak berperikemanusiaan itu. Langkah ini kerap kali mencemaskan para sekutu-sekutunya, mengundang kecaman meluas di dalam dan luar negeri. Masalah ini juga belum diselesaikan Bush hingga saat ini.

Meski begitu, Bush memuji diri. “Saya rasa, saya akan diingat sebagai orang yang Anda tahu telah menghadapi banyak masalah berat untuk ditangani. Saya menghadapinya langsung dan saya tidak berusaha mundur,” katanya pada November 2007.

“Saya membuat keputusan-keputusan atas dasar prinsip-prinsip, bukan atas dasar jajak pendapat terbaru Gallup Poll,” ujarnya.

Prinsip-prinsip itu dia gambarkan sebagai sebuah misi untuk menyebarluaskan demokrasi, untuk memenangi “perang ideologi” pada abad ke-21 ini. Hal inilah yang menjadi pusat argumentasinya untuk melakukan invasi ke Irak pada Maret 2003. Hal itu juga menjadi argumen pokok untuk doktrin “perang preventif” yang kontroversial, saat terbukti Presiden Irak Saddam Hussein tidak memiliki senjata pemusnah massal atau punya hubungan dengan Al Qaeda.

Popularitas internasional dan nasional Bush jatuh merosot dengan terjadinya skandal Abu Ghraib. Pidato kemenangan Bush dengan tulisan besar-besar “misi selesai dilaksanakan” ditangkap oleh kalangan sipil secara luas sebagai sebuah kebohongan besar. Namun, Bush terus menggembar-gemborkan ke mana- mana bahwa perang di Irak dan Afganistan adalah perang “pembebasan” 55 juta orang yang ada di kedua negara itu.

“Keputusan menggusur Saddam Hussein adalah keputusan tepat di awal kepresidenan saya. Itu adalah keputusan yang tepat pada masa kepresidenan saya saat ini, dan itu selamanya akan menjadi sebuah keputusan yang benar,” katanya pada Maret 2008.

Padahal, perang itu telah membuat sejumlah sekutu tradisional AS menjauhi AS, meruntuhkan prestise AS di dunia Islam, dan akhirnya membawa partai Republik-nya kalah dalam pemilihan umum parlemen pada pertengahan tahun 2006.

Perekonomian yang buruk

Bukan hanya dalam bidang hubungan luar negeri yang merah, di bidang ekonomi pun catatan Bush buruk. Dia mengarahkan pemotongan pajak besar-besaran lewat Kongres AS, yang dikatakannya untuk menggairahkan ekonomi AS. Padahal, defisit anggaran AS semakin membesar.

Ekonomi AS yang semula berada dalam kondisi baik, perlahan tetapi pasti, semakin merosot dengan dialihkannya sebagian besar anggaran untuk membiayai perang di Irak, Afganistan, dan upaya-upaya melawan terorisme lainnya. Apa yang disebutnya perang melawan terorisme itu telah mengalahkan berbagai kepentingan AS lainnya.

Akibatnya, banyak publik AS masih mengingat gambar-gambar menyedihkan akibat buruknya respons pemerintahan Bush terhadap topan Katrina, yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah New Orleans.

Di akhir masa jabatannya, Bush pun tak berdaya mencegah AS dari krisis keuangan yang kemudian dampaknya menyebar ke seluruh bagian dunia. Meski berbagai upaya coba dilakukan, Bush sudah sangat terlambat.

Apakah Bush kini kemudian menyadari bahwa masalah krisis ekonomi jauh menyengsarakan AS dan sebagian besar warga dunia ketimbang perang melawan terorisme yang dia agung-agungkan itu? Sulit ditebak.

Bagi beberapa orang, seperti pemimpin mayoritas Senat Harry Reid dari Demokrat, atau Profesor Elizabeth Sanders dari Cornell University, Bush akan tercatat sejarah sebagai “presiden terburuk”. Akan tetapi, para pendukungnya yang saat ini sekitar tiga dari setiap 10 warga AS mengagumi keteguhan Bush pada prinsip dan meyakini sejarah akan membersihkan namanya.

Sidney Milkis, seorang profesor masalah luar negeri dan pemerintahan di University of Virginia, mencatat bagaimana tidak populernya Harry S Truman dan Perang Korea ketika dia turun dari jabatannya. “Perasaan terhadap Truman persis sama, tetapi kemudian sejarah memperlakukan Truman dengan baik. Ada saja kemungkinan sejarah menilai George Walker Bush lebih baik daripada yang kita pikir soal dia pada saat ini,” ujarnya.

Meski demikian, Milkis juga berhati-hati sebab terjadinya krisis keuangan global akan membuat kemungkinan itu jauh lebih sulit. “Jadi, ketimbang Truman, analogi mengenai dia lebih pas dengan (Herbert) Hoover,” ujarnya. Hoover dipersalahkan hingga saat ini karena gagal mencegah depresi hebat akibat dari bobroknya ekonomi AS.

Bush sendiri tampak tidak peduli bagaimana sejarah akan menilainya. “Saya sudah akan mati sebelum mereka akhirnya menyimpulkan bagaimana pemerintahan saya karena membutuhkan waktu untuk mendapatkan sejarah yang benar mengenai sebuah pemerintahan,” katanya. (Rakaryan Sukarjaputra, Kompas)