Jokowi dan Ahok, Lilin Harapan Indonesia

Di sebuah ruangan miniatur negara Indonesia terdapat beberapa “lilin” yang diharapkan dapat menerangi ruangan itu dengan baik. Uniknya, semua lilin yang ada memiliki nama dan identitas khusus untuk memberi dukungan bagi penerangan ruangan. Cahaya di ruangan itu mulai redup, dan makin lama makin redup karena satu demi satu lilin memadamkan dirinya. Dalam wawancara imajiner, seseorang bertanya dengan sedih, “Mengapa kalian padam satu demi satu?”

Lilin pertama yang bernama lilin politik berkata, “saya akan memadamkan diri karena tidak berguna. Urusan politik di ruangan ini menyedihkan, dan dilakoni kebanyakan politisi hitam. Ingin berkuasa untuk mengabdi pada diri sendiri. Setelah berkuasa mengeruk uang negara, memperkaya diri – keluarga – dan hidup bermewah-mewah, sementara rakyat makin melarat. Saya hidup atau mati, tidak ada bedanya”.

Lilin kedua bernama lilin penegakan hukum berkata, “saya memadamkan diri, karena percuma saya hidup sebagai lilin penegakan hukum. Saya tidak dipakai, karena penegakan hukum di kamar ini tidak terjadi dengan benar. Penegak hukum maju tak gentar membela yang bayar. Hukum hanya tegak bagi orang kaya atau pejabat, sedang bagi si miskin hukum tidak peduli bengkok atau miring. Percuma saya hidup!.

Lilin ketiga yang bernama lilin ekonomi berkata, “saya memadamkan diri, karena malu. Ekonomi di sini sudah bangkrut. Uang dan proyek diambil penguasa dan pengusaha. Hilangnya uang di atas 30% dalam pengumpulan pendapatan negara, lalu hilang lagi 30% dalam pengalokasiannya. Negara kaya tapi bangkrut, orang kaya makin kaya, yang miskin makin menjerit. Kota di bangun hebat-hebat, desa dan pedalaman ditelantarkan”

Lilin keempat yang bernama lilin pendidikan berkata, “tidak ada gunanya hidup, sebab peran saya sebagai lilin pendidikan tidak kepake. Pendidikan di sini salah satu yang terburuk di dunia, padahal anggarannya sudah besar sekali. Uang yang dialokasikan besar tetapi mutu pendidikan tetap sangat rendah. Saya malu!”.

Lilin kelima yang bernama lilin kesehatan menjelaskan alasannya memadamkan diri, karena pengurusan sola kesehatan hanya dalam batas jargon saja, tidak sampai dilaksanakan. Tetap saja simiskin tidak dapat berobat. Bahkan pejabat tinggi sempat direncanakan dibiayai negara berobat keluar negeri, padahal rakyat miskin jangankan berobat, makan dua kali sehari pun tidak bisa.

Ternyata, alasan lilin-lilin yang lain memadamkan diri hampir mirip dan penuh rasa frustasi. Namun ada satu lilin yang tetap bertahan hidup sekali pun ruangan sudah demikian redup. Ia bertahan, tetap melakukan tugasnya walau berat dan sendirian diterpa tiupan angin dan rasa frustasi rekan-rekannya.

Lalu seseorang bertanya kepada lilin yang menyala sendirian itu, “Mengapa engkau tetap bertahan dan menyala padahal semua temanmu sudah memadamkan diri?”

Sang lilin yang menyala bernama lilin harapan itu menjawab, “Jika engkau dan semua yang membutuhkan penerangan masih memiliki harapan, gunakanlah saya, si lilin harapan, untuk menyalakan lilin-lilin lain. Lalu peliharalah semua lilin dengan baik untuk kelak selalu dapat menyala ”

Jokowi atau Joko Widodo, dan Ahok atau Basuki Tjahya Purnama merupakan fenomena “lilin harapan” itu. Di negeri nan kaya berlimpah, namun masih banyak warga melarat, kemiskinan di mana-mana, akibat maraknya korupsi dan penyelewengan jabatan, telah membuat banyak orang pesimis bahkan frustasi atas masa depan bangsa Indonesia.

Telah muncul sejumlah tokoh baru yang diyakini bisa membawa Indonesia menuju terang, seperti ditulis media Amerika Serikat Wall Street Journal (WSJ) 8 Oktober 2013. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan Walikota Bandung Ridwan Kamil disebut WSJ sebagai ‘new breed’ atau ‘rising star’–Republik Indonesia (RI). Mereka adalah tokoh baru yang dapat memberikan harapan bagi Indonesia.

Namun, tulisan di WJS belum lengkap jika tidak menyebut Ahok, sang Wakil Gubernur DKI bernama Basuki Tjahya Purnama itu.

Jokowi-Ahok bernar-benar telah menjadi “the new phenomenon” dalam pemerintahan di Indonesia. Dari sejumlah kehebatan pasangan ini saya ambil satu contoh tetang kenaikan APBD. Pada akhir masa jabatan Foke, Gubernur DKI sebelum Jokowi, APBD DKI hanya sekitar Rp 42 Triliun. APBD pertama dimasa Jokowi-Ahok (2013) langsung di kisaran 56 Triliun, dan APBD 2014 sebesar 72 Triliun termasuk SILPA 2012 lebih dari 2 Triliun. Ahok janji, tahun 2017, APBD DKI bakal mencapai 100 Triliun. Bisa kita perkirakan, kenaikan APBD DKI peruntukan fasilitas publik sejak Jokowi-Ahok menjadi “pelayan” di DKI naik minimal 40 Triliun. Itu pun bebas dari korupsi dan inefisiensi. Warga DKI betul-betul mendapat berkah atas hehadiran pasangan Gubernur-Wagub ini.

Maka dalam tulisan ini, lilin harapan bagi Indonesia tercinta, yang telah membuktikan diri setidaknya kurang dari 2 tahun terakhir adalah Jokowi-Ahok. Banyak kalangan menaruh harapan mereka dapat menyejahterakan bangsa ini jika rakyat mempercayakan mereka berdua menjadi “Pelayan Indonesia”. Semoga.

Bandung, 26 Januari 2014

Bernard Simamora