Ketahanan Air di Era Milenial (Refleksi Hari Air Sedunia 22 Maret)

Ragam

Oleh Hikmayani

PENURUNAN kualitas air tanah dan kekhawatiran akan ketersediaan air layak di kota besar menjadi perhatian dunia. Investigasi pada air kemasan branded yang terkontaminasi mikroplastik menambah deretan kecemasan akan air layak konsumsi. Awal Maret ini, New York Times memberitakan kondisi air tanah Jakarta. Pemanfaatan air tanah disinyalir menjadi salah satu sebab turunnya permukaan tanah Jakarta. Peningkatan kemiringan tanah akhirnya tidak terhindarkan. Ini memicu reaksi cepat tanggap Gubernur DKI Jakarta yang segera melakukan inspeksi mendadak dan pengawasan ketat terhadap sumur resapan di banyak titik di Ibu Kota.

Begitu pentingnya air bagi kehidupan. Telah dideklarasikan PBB bahwa air merupakan hak dasar manusia. Setiap manusia mempunyai hak sama terhadap pemakaian air. Penetapan 22 Maret sebagai Hari Air Sedunia menjadi momentum untuk mengingat fenomena krisis air yang mengglobal. Tanpa kebijakan tepat, baik dalam perilaku sehari-hari maupun dunia usaha, pada 2030 kebutuhan air akan lebih besar 40% dari volume yang tersedia. Berdasarkan data WHO, diperkirakan setiap harinya sekitar 2 miliar manusia terdampak kekurangan air di 40 negara. Diprediksi pula oleh WHO pada 2050, 1 dari 4 orang kekurangan air bersih. Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di era milenial saat teknologi semakin canggih. Sulitnya air bersih terjadi di masa ketika akses komunikasi dan informasi semudah mengusap jari di layar gadget.

Poin keenam dari 17 Sasaran SDGs yang ingin dicapai dunia adalah memastikan ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi berkelanjutan. Dilansir dari nationalgeographic.co.id (2016), 1 dari 10 penduduk dunia tidak memiliki akses ke air bersih. Pemerhati dunia memformulasikan tiga prioritas penting sebagai isu utama sepanjang peradaban manusia, yaitu pangan (food), air (water), dan energi (energy).

Sebagai kebutuhan yang tergolong vital, ketersediaan air memengaruhi kesehatan, ketahanan pangan, bahkan per­ekonomian suatu negara. Akses air bersih dan sanitasi menjadi mata rantai utama untuk kesehatan yang baik. Kesehatan menjadi cikal bakal bagi seseorang untuk memperoleh pendidikan, perbaikan ekonomi, dan kesejahteraan hidup. Akses terhadap air minum dan sanitasi berpengaruh langsung pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM), terutama terkait Angka Harapan Hidup. IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan upaya membangun kualitas hidup manusia suatu negara.

Ketahanan Air dan Pangan merupakan dua permasalahan yang beberapa tahun terakhir dihadapi Indonesia. Dalam hal ketahanan air, Indonesia me­rupakan salah satu negara dengan potensi air melimpah di beberapa wilayahnya. Tingginya pertumbuhan penduduk dan pesatnya kegiatan pembangunan mengakibatkan peningkatan kebutuhan air yang signifikan. Akibatnya, stok air menjadi terbatas bahkan terjadi kekeringan di beberapa daerah. Ini merupakan refleksi penurunan kualitas lingkungan hidup akibat aktivitas manusia. Selain ancaman polusi, penggundulan hutan, berubahnya tata guna lahan, peningkatan tekanan di permukaan tanah, masih banyak risiko lain yang memperparah krisis air di negara kita.

Hasil Susenas BPS menunjukkan selama lima tahun terakhir akses rumah tangga terhadap sumber air layak untuk minum dan mandi/cuci menunjukkan tren positif. Terjadi peningkatan rumah tangga yang mengakses air yang layak. Rata-rata kenaikan satu persen setiap tahunnya. Namun, ketika dibandingkan antara perkotaan dan perdesaan, selama 2015-2017 persentase peng­gunaan air layak di perkotaan relatif mengalami penurunan rata-rata 0,15% setiap tahun. Sebaliknya selama tiga tahun tersebut, di wilayah perdesaan justru mengalami peningkatan, dengan kenaikan rata-rata 0,5% setiap tahunnya. Ini menguatkan asumsi bahwa se­iring waktu wilayah perkotaan dengan aktivitas perekonomian lebih kompleks dan pertumbuhan penduduk lebih tinggi dari wilayah pedesaan akan mengalami penurunan volume air layak bagi rumah tangga.

Dilema yang terjadi adalah masyarakat perkotaan sekarang cenderung menggunakan sumur galian untuk mendapatkan air tanah. Dengan berbagai alasan masyarakat memanfaatkan air tanah sebagai alternatif menyubstitusi air yang disediakan Perusahaan Air Minum (PAM). Penggunaan air tanah harus dilakukan dengan bijak dan disesuaikan dengan kebutuhan. Pa­salnya, ketika dilakukan de­ngan serampangan dapat me­ngu­rangi cadangan air tanah bah­kan merusak keseimbangan lingkungan.

Sebagai anggota G20, Indonesia masih berjuang meraih posisi sepuluh besar peringkat negara dengan akses air dan sanitasi terbaik. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, terdapat sekitar 72 juta orang Indonesia belum mempunyai akses air minum yang layak dan sekitar 96 juta belum mempunyai akses sanitasi yang layak. Jika dibandingkan dengan kawasan Asia Tenggara, akses air dan sanitasi Indonesia hanya lebih baik dari Timor Leste dan Kamboja. Padahal, dua negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia menduduki dua peringkat teratas.

Hari Air Sedunia 2018

Seolah air tidak pernah habis menutupi sekitar 71% permukaan bumi. Proporsi terbesar berada di laut, yaitu sekitar 97%, sedangkan 3% be­rupa air tawar yang menunjang kehidupan manusia. Dua per tiga dari air tawar merupakan gletser dan es di kutub yang berfungsi menstabilkan iklim global sehingga hanya satu pertiganya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Dengan mengusung tema Solusi Air berbasis Alam (Nature-based Solutions for Water), peringatan Hari Air Se­dunia tahun ini memfokuskan pada pemanfaatan air dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan. Mengutip dari unwater.org, ber­bagai kerusakan lingkungan bersamaan de­ngan perubahan iklim bumi memperparah ke­tidakseimbangan demand-supply air dunia.

Perlunya penetapan regulasi ketat oleh pemerintah daerah maupun pusat dalam mendisiplinkan pemanfaatan air tanah oleh rumah tangga maupun badan usaha. Selain itu, solusi alami diharapkan mampu mempertahankan kelangsungan sumber daya air. Karena pemeliharaan sumber daya air berbasis alam merupakan upaya terjangkau dan mudah dilakukan oleh banyak pihak.

Di Indonesia, pembuatan sumur resapan, lubang biopori, penanaman rumput bahkan penggunaan kembali air buangan sudah pernah dilakukan di beberapa daerah. Berdasarkan data yang dirilis BPS, selama 2013-2014 terdapat peningkatan sekitar 8,25% rumah tangga yang memanfaatkan air buangan/ bekas cuci. Namun, di sisi lain selama periode yang sama, terjadi penurunan sekitar 4,24% rumah tangga yang memanfaatkan area resapan air. Sepertinya teknis dan manfaat program tersebut belum tersosialisasi dengan baik.

Dengan pengelolaan yang lebih baik dan kedisiplinan dari semua pihak, berbagai upaya alami yang dilakukan akan mampu memelihara siklus air. Hal ini diharapkan mampu men­jamin ketersediaan sum­ber air bersih dan layak konsumsi sebagai warisan bagi anak cucu di masa mendatang.

Hikmayani, Statistikawan pada Badan Pusat Statistik Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan

Sumber : Koran Sindo, Kamis, 22 Maret 2018 – 08:10 WIB