Press "Enter" to skip to content

Lima Puluh Perumpaan Batak (2)

Perumpamaan dalam budaya Batak adalah kalimat bijak yang tujuannya untuk mengungkapkan sesuatu hal dalam bentuk kata yang lain, atau untuk menghaluskan seperti penggunaan perumpamaan pada bahasa Indonesia.

  1. Ndada simanuk-manuk manang sibontar andora, ndada sitodo turpuk siahut lomo ni roha. (Maknanya: Ada kalanya yang terjadi itu di luar kemauan kita dan harus kita terima apa adanya).
  2. Ndang boi sambariba tangan martopap. (Maknanya: Tak mungkin hanya bertepuk tangan sebelah).
  3. Songon tuhil, ia pinasak masuk, ia tinait ro. (Maknanya: Bagaikan pahat dipukul; masuk, ditarik kembali. Maksudnya; janganlah bekerja kalau disuruh, ambil inisiatif).
  4. Hotang binebe-bebe, hotang pinulos-pulos, unang hamu mandele ai godang do tudos-tudos. (Maknanya: Janganlah putus asa, sebab banyak contoh penderitaan serupa di luar sana, bahkan penderitaan mereka lebih berat).
  5. Arga jambar juhut argaan do jambar hata. (Maknanya: Nilai kesempatan menggunakan hak bicara dalam adat lebih mahal dari hak mendapatkan bagian daging).
  6. Jolo diseat hata asa diseat raut. (Maknanya: Lebih dulu diputus kata sebelum diputus pisau. Artinya jangan terus membagikan jambar adat sebelum dimufakati atau sebelum dibicarakan).
  7. Maila raut so dapotan. (Maknanya: malu pisau tidak melukai . Ini dikatakan untuk melarang keras orang yang suka mempermainkan pisau, sebab bukan tak mungkin akan melukai orang).
  8. Marimbulu natinutungan. (Maknanya: bebulu lagi yang sudah dibakar. Artinya keputusan yang sudah disepakati dalam rapat menjadi batal tidak berarti hanya karena salah seorang yang tidak hadir menolak hasil kesepakatan tersebut).
  9. Ndang uasan halak di toru ni sampuran. (Maknanya: Tidak akan kehausan orang di dekat air terjun. Ini dikatakan kepada orang yang berada di tengah-tengah keluarga makmur tidak akan kelaparan).
  10. Ulu balang na so mida musu. (Maknanya: mengaku jagoan dan pemberani tetapi tak pernah berhadapan dengan musuh).
  11. Mulak-ulak songon namangusa botohon. (Maknanya: Berulang sulang atau bolak-balik bagaikan membersihkan tangan. Artinya, tidaklah salah walaupun apa yang telah diucapkan pembicara terdahulu diulangi lagi oleh pembicara belakangan).
  12. Sidapot solup do na ro. (Maknanya: Pendatang sebaiknya mematuhi atau tunduk pada kebiasaan adat yang berlaku setempat, Tidak boleh mengatakan, wah.. kalau yang berlaku di daeah kami… begini atau begitu).
  13. Marsolup di hundulan. (Maknanya: Posisi kekerabatan seseorang dalam acara adat tergantung aturan yang berlaku, bisa sebagai Hula-hula, sebagai boru, atau derajat kekerabatan lainnya. Ini dikatakan seseorang yang hubungan kekerabatannya berbagai segi).
  14. Songon na mandege gara. (Maknanya: bagaikan menginjak bara api. Ungkapan ini merupakan sindiran bagi tamu yang dating sebentar lalu pergi).
  15. Tedak songon indahan di balanga. (Maknanya: Terbuka atau transparan seperti nasi dalam kuali. Artinya tidak ada yang perlu ditutup-tutupi).
  16. Na teal so hinallung na teleng so hinarpean. (Maknanya: yang berat sebelah tidak dipikul, yang mirik tidak dialasi. Diucapkan mengeritik orang yagn angkuh tetapi sesungguhnya tidak ada apa-apanya).
  17. Marsitijur dompak langit, sai madabu do tu ampuan. (Maknanya: meludah ke langit dengan sendirinya jatuh ke pangkuan. Artinya ; menjelekkan saudara sendiri sama dengan menjelekkan diri sendiri).
  18. Nang pe di bagasan sunuk manuk sabungan, sai tong do martahuak. (Maknanya: kalaupun terkurung di dalam keranjang, ayam sabung akan tetap berkokok. Artinya, si pemberani itu akan selalu menunjukkan keberaniannya di mana pun ia berada).
  19. Na tinaba ni tangke martumbur, na tinamba ni gana ripur. (Maknanya: Yang ditebang kampak akan bertunas, yang ditebang sumpah mati tak akan berketurunan. Artinya, janganlah sampai termakan sumpah sebab berat risikonya).
  20. Naso matanggak di hata, naso matahut di bohi. (Maknanya: Berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Tahut = takut).
  21. Monang di surak-surak, talu di olop-olop. (Maknanya: Keburu bersorak karena dikira sudah menang padahal ternyata kalah).
  22. Talu maralohon dongan, monang maralohon musu. (Maknanya: Tidak apalah kalaupun kalah/ mengalah terhadap teman asalkan menang melawan musuh).
  23. Marurat tu toru marbulung tu ginjang (Maknanya: Berakar ke bawah berdaun ke atas. Seseorang mempunyai keturunan anak laki-laki dan perempuan).
  24. Najagar dijolo dijolo, najagar dipudi pudi; girgir manangi nangi bakkol makkatahon jala serep marroha. (Artinya Jadikanlah dirimu sering untuk mendengar, tidak apatis, tetapi perlu batasan untuk mengatakan menyampaikiannya dan tetap rendah hati tidak pernah sombong.)
  25. Ijuk dipara para, hotang diparlabian, nabisuk nampuna hata naoto tupanggadisan. (Artinya Belajarlah tanpa batas karena orang yang pintar atau pandai akan mendapat tempat yang lebih baik dari yang tidak.)
  26. Ijuk dipara-para, hotang diparlabian; nabisuk nampuna hata, naoto siajaran. (Artinya : Jika kita lebih mengerti, maka berkenanlah memberi pengertian kepada yang kurang faham.)
  27. Pantun hangoluan tois tuhamagoan. (Artinya. Tampillah dengan selalu Sopan karena orang berperilaku sopan dan santun adalah cikal bakal kehidupan yang baik tetapi berperilaku sombong dan angkuh awal dari kehancuran.)
  28. Nagogo mangula do butong mangan, najugul marguru do dapotan poda.( Orang yang gigih bekerja adalah mendapat mudah Rejeki dan orang ang gigih belajar akan mendapat ilmu lebih)
  29. Baris baris ni gaja tu rura pangaloan, molo marsuru raja naikkon do oloan. (: Harus taat pada atasan, setiap perintah atasan atau yang lebih tua haruslah di laksanakan)
  30. Muba dolok, muba duhutna, muba laut, muba uhumna, sidapot solup do naro. (Artinya. Lain daerah lain kebiasaannya, lain Kelompok /organisasi lain juga peraturannya, setiap pendatang baru wajib menghormatinya.)
  31. Manuk ni pea langge hotek hotek laho marpira, nasirang marale ale lobian matean ina. (Artinya ini mengambarkan Manusia batak YANG SETIA KAWAN, suka begaul dan mempunyai banyak teman, Jika kita kehilangan seorang handai taulan sepertinya kita merasa melebihi kehilangan seorang ibu yang kita cintai.)
  32. Rata pe bulung ni salak, rataan dope bulung ni sitorop, uli pe hata ni sahalak, ulian dope hata torop. (Artinya Menjungjung tinggi Nilai nilai Demokrasi, Walaupun pendapat seseorang sudah baik tetapi keputusan bersama adalah lebih baik.)
  33. Dolok martimbang hatubuan ni siborot, debata na diginjang suhat suhat ni jolma jala naparorot. Artinya Pasrah dan penyerahan diri kepada Tuhan yang maha kuasa menjadi hakim yang melindungi manusia ).
  34. Sukkun mula ni hata, sise mula ni Uhum. (Artinya, Untuk mengambil suatu keputusan harus dengan musyawarah.)
  35. Jongjong adat nasotupa tabaon, nahot naso jadi husoron. (Artinya; Adat yang telah dirancang moyang dari dulu, walaupun tidak tertulis tapi tak boleh dirubah.)
  36. Boni naso jadi dudaon. (Artinya; Seseorang tidak boleh mengganggu kehidupan dan mata pencaharian orang lain.)
  37. Parinaan ni manuk naso jadi siseaton. (Artinya; Segala sesuatu yang telah dirancang oleh nenek-moyang tidak boleh kita hilangkan atau ditiadakan.)
  38. Tokka do dohonon Goar ni Inang Bao, tung pe binoto. (Artinya; Tidak akan membeberkan suatu rahasia walau sudah jelas ada bukti, kalau nanti itu akan membawa/mengakibatkan kekacauan dan perpecahan.)
  39. Somba marhula-hula elek marboru manat mardongan tubu. (Artinya; Falsafah Dalihan na Tolu adalah pondasi kehidupan masyarakat Batak yang harus di junjung tinggi,
  40. Jeppek Abor naso silakkaon, na ni handing sosirasrason napinarik pe sotolbakon. (Artinya; Sekecil apapun hukum tatanan yang telah disepakati, karena itu adalah hasil musyawarah maka tidak boleh dilanggar.)
  41. Dang sitodo turpuk siahut lomo ni roha. (Artinya; Kita harus tabah akan apa yang telah kita terima dan nikmati, karena segala kehidupan manusia ada ditangan Tuhan (Mulajadi Nabolon.)
  42. Pattun hangoluan, tois hamagoan, unang pesalihon nalonga, jala unang ho makkilang, (Artinya; Kita harus lemah lembut dan sopan santun diharapkan juga tidak akan mengambil riba/keuntungan dari orang miskin.)
  43. Nasojadi paboaon nasopatut tu ina-ina, alai muba do molo tu ina. (Artinya; Jangan memberi informasi yang bersifat rahasia kepada orang yang suka atau sering menggosip.)
  44. Mar-Bo lao tu Tapian, ehem laho tu jabu. (Artinya; Harus membiasakan diri dalam tata karma yang sangat hati-hati agar tak terjerumus dalam perbuatan amoral.)
  45. Alai li alai lio, singir gabe utang molo so malo. (Artinya; Berusahalah jadi orang yang pintar dan bijak, karena orang bodoh akan selalu jadi santapan orang pintar.)
  46. Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung. (Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi, apa yang mau dilakukan.)
  47. Jolo nidodo asa hinonong. (Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik di teliti dulu situasi apa yang mau dilakukan
  48. Jolo tinaha garung niba, niantan sulangat niba. (Artinya: Sebelum melakukan sesuatu lebih baik kalau kita menyadari kemampuan diri sendiri.)
  49. Ndang be tarrarikkon, Bulusan ma nirogohon; Ndang na tarandungkon, Bulusan ma hinasiphon (Artinya: Tidak bisa ditarik lagi, sekalian dorong saja; tidak tertangisi lagi sekalian diamkan saja.)
  50. Sinuruk simarombur di tingki ngali ni ari; Taonon nama sudena i, ai nunga ro soroni ari (Artinya: jika penderitaan sudah datang, sekali pun pahit harus dihadapi; mau dikatakan apa lagi.)