Mandok Hata dalam Adat Batak

0
41

Dalam adat Batak Toba, ada satu mata acara yang sering luput dari perhatian kita, yakni Mandok Hata. Walaupun, dalam praktek hidup sehari-hari kita sering melihat bahkan mempraktekkan mandok hata. Yang menjadi persoalan ialah bahwa mandok hata dilihat sebagai peristiwa biasa yang disamakan dengan acara pemberian kata sambutan. Sebaliknya ada sebagian orang beranggapan bahwa mandok hata itu sulit.

Secara harafiah, mandok hata dapat diartikan mengucapkan kata atau sabda. Acara ini merupakan bagian dari upacara adat. Misalnya saja, dalam acara perkawinan, upacara orang meninggal, pesta tugu dan upacara-upacara lain selalu dibarengi dengan mandok hata.

Perlu disadari bahwa mandok hata bukanlah sekedar mengatakan atau berkata-kata. Mandok hata adalah bagian dari seni dan budaya Batak Toba. Acara ini begitu khas sehingga tidak bisa disamakan begitu saja dengan acara kata sambutan dalam peristiwa kenegaraan sekalipun. Mungkin pendapat ini terlalu ektrim tetapi perhatikanlah alasan berikut ini. Dalam upacara kenegaraan, umumnya orang menyampaikan kata sambutan dengan membacakan teks tertulis tanpa disertai dengan bahasa sastra. Tetapi dalam acara mandok hata selalu disertai dengan bahasa sastra (umpama/umpasa) dan itu diungkapkan secara lisan.

Mandok hata dan “seni mandok hata” mendapat kedudukan dan nilai yang tinggi dalam tradisi Batak Toba. Tak ada upacara yang marsintuhu (sungguh-sungguh) yang tidak disertai mandok hata. Kalau seseorang mandok hata itu berarti orang lain tak boleh ribut. Seseorang yang diundang makan berarti ia harus mandok hata. Maka dalam mandok hata itu terkandung suatu berkat dan permohonan kepada Allah; terkandunglah nilai-nilai kesopanan, kebahagiaan dan pengharapan akan rahmat Allah. Dengan demikian pihak tuan rumah (suhut) harus menyambut (mangampu) segala kata, berkat dan rahmat tersebut.

Orang yang mandok hata bukanlah sembarang orang. Tentu saja, seorang perampok apalagi koruptor tidak diharapkan mandok hata. Hanya orang yang terhormat dan dianggap mempunyai sahala hatuaon (yang bertuah) yang memperoleh kesempatan untuk menyalurkan rahmat atau berkat. Perlu diketahui juga bahwa orang yang mandok hata harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dan memperhatikan penampilan serta kewibawaanya agar efek berkatnya besar.

Setiap orang tentu mampu mandok hata. Apalagi orang Batak Toba adalah “seniman mandok hata” dari lahirnya. Sekurang-kurangnya orang Batak sering diidentikkan dengan orang yang banyak omong. Tetapi sekarang ini banyak orang mengatakan bahwa mandok hata itu sulit. Mandok hata sering menjadi sulit lebih karena keengganan berdiri dan berbicara di depan umum. Untuk alasan yang satu ini memang tak ada resep yang mujarab, selain berani berlatih dan mencoba. Berikut ini akan dipaparkan secara sederhana cara mandok hata. Langkah pertama ialah marsantabi (permisi) kepada situan natorop (orang banyak) dan mengucapkan terimakasaih. Contohnya, Santabi ma di loloan bolon na pinarsangapan/ Jala mauliate ma di tinggki na pinarade laho mandok hata saotik sian hami. Setelah marsantabi dan berterimakasaih, menyusullah langkah kedua yaitu inti ucapan. Demi kelancaran dalam menyampaikan inti ucapan maka sebaiknya, apa yang akan disampaikan itu sudah dipersiapkan terlebih dahulu dengan menyusunnya dalam hati. Kemudian yang terakhir ialah bagian penutup. Penutup ini biasanya diisi dengan umpama/umpasa, contohnya, Eme sitamba tua/ Parlinggoman ni siboro/ Debatanta na martua/ Sai horas ma hita diparorot, dan lagi Sahat-sahat ni solu/ Sahat ma tu bontean/ Leleng hita mangolu/ Sai sahat ma tu panggabean. “IMATUTU”.

Mandok hata, ya gampang, ya susah juga

Hampir setiap pertemuan “ulaon” (kegiatan) komunitas Batak, dilengkapi dengan pembicaraan yang agak serius. Pada saat seperti itu, “mandok hata”, merupakan bagian yang sangat penting. Kalau diterjemahkan secara kasar “mandok hata” bisa berarti “berbicara”. Tapi terminologi “mandok hata” sesungguhnya tidak sekedar berbicara. Karena mandok hata, bisa juga berupa permohonan, atau bahkan memberikan “berkat”.

Di kota-kota besar, “mandok hata” bisa menjadi masalah yang rumit, terutama bila yang ditunjuk untuk “mandok hata”, tidak terbiasa melakukan hal itu. Adakalanya orang yang kurang memahami, main “pukul rata” dalam mandok hata, tidak memperhatikan posisi dan fungsinya sebagai pembicara dan kepada siapa “hata” itu ditujukan. Makna “hata” yang disampaikan juga menjadi melenceng. Akhirnya mandok hata itu menjadi salah kaprah.

Suatu kali ada sepasang suami istri muda yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Ketika si ibu muda, boru X, hamil tua, maka orang tua si istri, yaitu bapak marga X, datang untuk memberikan “ulos tondi”. Pemberian “ulos tondi” dimaksudkan untuk menyertai ibu muda agar sehat sampai melahirkan anaknya.

Sampai saat itu, pasangan suami istri muda ini tinggal di rumah milik orang tua si istri (di Pondok Mertua Indah di Jakarta), meski tidak serumah dengan bapak X. Tentu karena keluarga pihak istri datang dengan membawa “dekke”, ikan, maka juga harus disediakan “tudu-tudu ni sipanganon” dari pihak suami. Dan keluarga dekat pihak suami (sebut saja marga Z), juga datang ke rumah pasangan muda tadi. Orang tua si suami muda tinggal di kampung, jadi tidak hadir di acara itu. Pihak marga Z diwakili “parudaon” (paman) dari si suami muda. Dalam kondisi itu yang menjadi “suhut” (tuan rumah) adalah pihak suami, yaitu marga Z.

Ketika tiba saatnya mandok hata, maka ibu dari istri pasangan muda itu (yaitu istrinya bapak X) berkata. ” Ima tutu di hamu amang, inang, mauliate ma ala ro hamu tu bagas nami on…..”. Terimakasih atas kehadiran amang dan inang ke rumah kami…”. Ibu ini tidak menyadari bahwa pada saat itu yang menjadi suhut (tuan rumah) adalah menantunya, jadi seharusnya pihak keluarga suami yang marga Z lah yang menyatakan terimakasih seperti itu. Ibu X itu mungkin hanya ingat, bahwa suami istri muda itu tinggal di rumah miliknya, jadi ia tetap merasa sebagai “tuan rumah“. Padahal dalam komunitas Batak pada kejadian itu, keluarga pihak suami marga X lah yang menjadi tuan rumah (suhut).

Contoh di atas, adalah karena Ibu X tidak tau konteks “mandok hata” pada acara pemberian “ulos tondi”. Mandok hata tidak semudah yang dibayangkan.

Kalau mendengar orang lain mandok hata, kita sering kali menyepelekan, seolah-olah itu adalah hal mudah. Tapi ketika gilirannya kita ditunjuk untuk mandok hata, nah, baru kebingungan, cengengesan seperti orang yang tidak tau harus ngapain. Biasanya lalu berkilah, supaya orang lain saja yang mandok hata. Padahal kalau ngobrol ngalor ngidul, berjam-jam pun tidak ada masalah. Kenapa pas mandok hata jadi susah.

Pada suatu “ulaon”, kegiatan tertentu, kadangkala memang tidak bisa dielakkan. Terpaksa juga mandok hata. Sambil kebingungan, biasanya kalimatnya jadi singkat-singkat. Dan kemudian belum apa-apa sudah sampai pada bagian akhir, “sahat-sahat ni solu, sahat ma tu bontean. Sai horasma hita mangolu, sai sahatma tu panggabean. Botima, hatangki, hata tambaan“. (terjemahan bebas: sesampainya perahu, sampailah ke bontean, semoga kita hidup bahagia, dan sejahtera. Sekian, diteruskan dengan pembicara selanjutnya).

Berbicara di depan orang banyak, memang bukan hal yang mudah, apalagi bila pada acara formal. Mandok hata adalah berbicara secara formal didepan umum. Karena mandok hata memang adalah bagian dari acara formal dari setiap adat Batak. Tidak ada acara adat yang tidak dilengkapi mandok hata. Untuk acara-acara tertentu, adakalnya ditetapkan juru bicara, yaitu apa yang disebut “pande hata” atau “raja parhata“.

Akan tetapi dalam tahapan “marhata sigabe-gabe“, maka pembicara tidak cukup hanya “pande hata“. Semua komponen dalam acara “ulaon”, harus menyampaikan sepatah dua kata yaitu mandok hata. Dalam kondisi itu, adakalanya tidak bisa dielakkan, karena seseorang memang dalam posisi tertentu, apakah sebagai dongan tubu, boru, tulang dan posisi lainnya.

Ada orang yang sangat piawai dalam mandok hata, kalimatnya runtut, bahasanya terjaga dan rapi. Tidak ada kata-kata yang vulgar, dan bisa memilih kosa-kata yang tepat. Sudah itu, selalu dilengkapi dengan “umpasa” (pari’an, bahasa Surabaya nya), sehingga “hata” yang disampaikan terasa cocok dengan konteks acara. Orang yang punya kemampuan seperti itu sering kali didaulat menjadi “pande hata” di kelompoknya. Ada orang yang memang mempunyai talenta yang bagus dalam mandok hata.

Sesungguhnya, mandok hata adalah ketrampilan. Sebagaimana laiknya ketrampilan lain, bila “diasah” dengan sunguh-sungguh, mandok hata juga dapat dikuasai. Sebagai ketrampilan, makin tinggi “jam terbang”, semakin baik pula kemampuan mandok hata. Maka agar handal dalam mandok hata, latihannya biasanya adalah di acara keluarga, yang lingkupnya relatif kecil. Setelah itu semakin lama ke lingkup yang lebih besar. (Dari berbagi sumber)