Press "Enter" to skip to content

Mengurangi Rakyat Miskin

Dengan logika sangat (terlalu) sederhana, berbagai kebijakan pemerintah untuk mengurangi jumlah orang miskin akhir-akhir ini “bisa dipahami”.
Kenaikan harga BBM, Bantuan Langsung Tunai (BLT), diikuti kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), kenaikan harga beras, dan kenaikan pulsa telepon, dlsb, yang pada akhirnya, tentu, jumlah rakyat miskin pasti akan berkurang.

– Tadinya rakyat miskin pada naik bis, sekarang jadi jalan kaki terus di jalan mereka tertabrak angkot yang ngebut karena nguber setoran, atau tertabrak mobil dan motor yang pusing beli bensin yang mahal, mati! Maka, rakyat miskin berkurang.

– Tadinya rakyat miskin makan sehari sekali, terus menjadi makan sekali untuk tiga hari karena nilai uang turun–penghasilan turun–harga beras dan lauk-pauk mahal, lama-kelamaan kelaparan–busung lapar-penyakitan, lalu mati! Maka, rakyat miskin berkurang.

– Tadinya rakyat miskin yang pada sakit masih bisa beli obat generik, kini tidak lagi bisa membeli lagi, atau tadinya ke Puskesmas bisa naik angkot sekarang jalan kaki, jadi malah mati di jalan. Maka, rakyat miskin berkurang.

– Tadinya rakyat miskin masih bisa bayar listrik 250 watt, kalau TDL naik, rakyat miskin tidak bisa bayar karena harga-harga kebutuhan lain juga naik, lalu aliran listrik diputus. Listrik tidak ada, rumah gelap gulita, gelap hati karena stres, gampang emosi, pertengkaran meningkat, pembunuhan terjadi. Mati. Maka, rakyat miskin berkurang.

– Berharap BLT yang 100 ribu per bulan, mengantri, rebutan, desak-desakan, konflik dengan kepala desa dan petugas BPS, beberapa orang miskin mati!. Maka, rakyat miskin berkurang.

– Pemberian BLT pertama kali langsung diberikan untuk 3 bulan, bulan pertama kenyang, bulan kedua-ketiga kosong, kelaparan lalu penyakitan, beberapa orang mati. Maka, rakyat miskin berkurang.

– Banyak industri penyerap tenaga kerja tutup atau mem-PHK karena tidak sanggup menanggung biaya produksi. Jutaan karyawan stres kehilangan pekerjaan, tidak ada lowongan lain, stres sembari kelaparan, beberapa mati! Maka, rakyat miskin berkurang

– Ada rakyat miskin yang jadi stres memikirkan BBM yang naik, sampai lupa makan dan minum, akhirnya mati juga. Maka, rakyat miskin berkurang.

– Ada rakyat miskin yang buat memenuhi kebutuhannya mereka nyolong ayam tetangga, eh ayam yang dicuri flu burung, yang makan mati! Maka, rakyat miskin berkurang.

– Ada rakyat miskin yang tidak bisa beli anti nyamuk, tidak bertenaga membersihkan saluran air karena kelaparan tidam bisa beli makanan. Akibatnya nyamuk Aedes Agepti bersarang di sekitarnya. Demam berdarah mewabah, tidak bisa beli obat – bayar dokter, mati! Maka, rakyat miskin berkurang.

– Ada rakyat miskin yang sangking laparnya, bertindak kriminal menjadi perampok, maling. Karena bukan ahlinya, gampang ketangkap, digebukin atau ditembak polisi, mati ! Maka, rakyat miskin berkurang.

Ternyata banyak cara untuk mengurangi jumlah orang miskin. Jadi, kebijakan-kebijakan mengurangi jumlah orang miskin yang dicanangkan pemimpin-pemimpin tertinggi republik ini sangat (terlalu) “masuk akal”. Realistis! Banyak bukti. Rakyat republik ini tidak salah pilih pemimpin (???).

(A01/Bernad Simamora)