Menjadi Berkat Bagi Sesama

0
20

blessed-to-be-a-blessingOleh Bernard Simamora

Kenaikan Yesus Kristus adalah peristiwa yang terjadi 40 hari setelah KebangkitanNya, Ia terangkat naik ke langit dan kemudian hilang dari pandangan setelah tertutup awan disaksikan oleh murid-murid-Nya, seperti yang dicatat dalam bagian Perjanjian Baru di Alkitab Kristen.

Selama 40 hari setelah kebangkitan-Nya pada hari Minggu, tiga hari sesudah kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus menunjukkan diri-Nya kepada para murid, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Yesus berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada hari kenaikan-Nya, ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang–demikian kata-Nya–“telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” Percakapan ini rupanya berlanjut sambil berjalan ke luar kota Yerusalem ke arah Betania di sebelah timur.  Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?”  Jawab Yesus: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Kristus naik ke sorga dengan meninggalkan berkat, dan oleh karenanya kita semua terpanggil untuk menjadi berkat bagi sesama. Menjadi berkat bagi sesama sudah sangat familiar bagi kehidupan kita. Tetapi apakah menjadi berkat bagi sesama adalah sesuatu yang mudah atau sulit untuk dijalani?

Kita mungkin pernah merasa seakan orang lain tidak peduli dengan kesulitan hidup kita, tidak ada yang merayakan keberhasilan kita, atau tidak ada seorang pun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan diri kita. Berpikiran positif akan membalik situasi ini. Hidup berpusat pada diri sendiri harus digeser dengan memulai untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain, saat ini, di sini dan sekarang ini. Karena semakin banyak kita memberi dengan tulus dan menjadi berkat bagi orang lain, kita akan semakin mudah menjalani hidup ini.

Menjadi berkat bagi orang lain, tidak selalu harus dilakukan dengan pemberian berupa barang atau materi, atau suatu aktivitas yang luar biasa. Memberi, bisa dilakukan dengan saling menyapa, senyum yang tulus, hadir tanpa menghakimi. Menjadi berkat juga berarti kata-kata kita tidak menimbulkan orang sakit hati, tidak menduga-duga pikiran orang, tidak saling mencurigai dan saling memojokkan. Menjadi berkat berarti berusaha untuk selalu mengatakan hal-hal yang baik bagi orang lain, seperti orang tua memberkati anak-anaknya, istri memberkati suami, suami memberkati istri, orang tua selalu mengeluarkan kata-kata yang baik pada anak-anaknya, meskipun kadang anak-anak Anda seakan tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang tuanya. Menjadi berkat juga berarti mengerjakan pekerjaan dengan penuh tanggungjawab, jujur dalam bertindak, ramah dalam melayani serta setia dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan

Dalam masyarakat kita yang penuh dengan keegoisan ini, kita sebagai orang beriman harus memenuhi setiap tempat yang kita masuki dengan menjadi berkat bagi siapa pun. Kita jangan pernah lupa bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dikasihi dan diberkati Allah. Sering kita membiarkan segala kutuk di dunia ini menggelapkan hati kita, sehingga kita menjadi orang tidak peduli sesama. Allah telah memberikan kepada kita berkat yang sangat luar biasa, yang hadir bersama kita, dan menyelamatkan kita melalui Yesus Putera-NYA.

Memberi dengan tulus adalah berkat. Hadir sebagai pribadi yang menyenangkan, membawa kegembiraan, membawa pencerahan, menyegarkan, mendukung, memperhatikan, menyemangati, adalah berkat. Maka setiap saat kita layak tanyakan pada diri sendiri, apa yang telah kita berikan kepada rekan kerja, kepada orang orang di sekitar kita: anak-anak kita, istri atau suami, terhadap pekerjaan, atasan atau orang-orang yang ada di sekitar kita. Apakah hari ini saya sudah menjadi berkat bagi yang saya temui?

Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri tidak akan pernah mengalami berkat yang paling mendatangkan sukacita. Banyak orang beranggapan bahwa berkat yang paling besar adalah menjadi kaya raya, dihormati orang lain, menjadi populer, dan memuaskan hawa nafsu. Anggapan semacam itu salah! Berkat yang paling memberi kepuasan adalah bila kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.

”Selamat memperingati dan merayakan hari kenaikan Kristus! Tuhan memberkati

Kis 1:1-11 | Maz 47:2-10 | Efe 1:15-23 | Luk 24:44-53

Disarikan oleh Bernard Simamora dari Khotbah Kebaktian Hari Kenaikan Yesus Kristus 9 Mei 2013

Tinggalkan komentar anda