Press "Enter" to skip to content

Menumbuhkan Minat Baca Anak

Membaca adalah salah satu faktor penentu kecerdasan seseorang. Dengan rajin membaca, seseorang akan memperoleh ilmu dan wawasan sehingga dirinya dapat mengembangkan potensi ke arah positif. Maka, kegiatan bertajuk “Hari Kunjungan Perpustakaan”, saya pikir, adalah jalan menuju tersedianya “library for all”, yang membutuhkan dukungan kalangan pendidik untuk menumbuhkan minat baca dalam diri peserta didiknya (anak-anak).

Membaca yang membudaya akan tercipta ketika siswa atau siswi-sebagai seorang murid-di suatu instansi pendidikan membiasakan berkunjung ke perpustakaan. Pembiasaan harus dikawal dengan kultur di lingkungan pendidikan yang mengarah kepada pertumbuhan minat baca anak didik. Menurut data tahun 2007, tercatat ada 63.717 perpustakaan di Jawa Barat yang dikelola 23.298 pustakawan (Kompas, 22/10/2008), yang berperan sebagai pendorong minat baca masyarakat, khususnya anak-anak.

Jumlah 1.500 orang yang tercatat berkunjung ke Perpustakaan Daerah Jabar per hari mengindikasikan tradisi membaca menampakkan iklim yang membaik. Oleh karenanya, dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk merealisasikan cita-cita bangsa, yakni mencetak generasi bangsa yang cerdas dan bermartabat, yang bisa diraih dengan membudayakan membaca di kalangan anak-anak.

Untuk kepentingan masa depan, kita semestinya mulai merancang strategi penanaman kesadaran membaca secara mengasyikkan terhadap anak-anak agar mereka mau berkunjung ke perpustakaan dan membaca buku.

Dukungan sekolah

Supaya membaca membudaya, diperlukan peran serta pihak sekolah, terutama guru, untuk menanamkan kesadaran dalam diri anak bahwa membaca adalah kegiatan mengasyikkan. Misalnya, mengadakan wisata outbound selama satu hari yang disertai dengan penanaman motivasi mereka menyenangi kegiatan membaca.

Dalam tataran praktis, mereka disuruh menyelesaikan bacaan satu eksemplar buku atau komik tipis yang di dalamnya terkandung muatan edukasi. Setelah menyelesaikan satu eksemplar buku atau komik tipis itu, mereka dipersilakan mengapresiasi isi yang terkandung di dalamnya.

Di samping itu, dalam kegiatan wisata outbound ini juga diadakan perlombaan mengarang, menulis puisi, dan lomba mewarnai bagi anak-anak. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca dalam diri anak sejak usia dini sehingga ketika dewasa nanti, mereka telah terbiasa membaca, menulis, dan berkunjung ke perpustakaan untuk menambah wawasan keilmuan.

Program wisata outbound dilaksanakan pihak sekolah selama satu kali per dua minggu. Misalnya, setiap Minggu, orangtua dan anak-anak diikutsertakan dalam program outbound penanaman kesadaran budaya membaca. Dengan demikian, ketika selesai melaksanakan program ini, orangtua dan anak menjadi akrab dengan tradisi membaca dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan program ini juga, hubungan di antara guru, orangtua, dan anak diharapkan terjalin harmonis. Selain program ini juga, pihak sekolah selayaknya melengkapi sarana dan prasarana perpustakaan mini untuk siswa dan siswi di lingkungan sekolah sehingga kebutuhan terhadap buku terpenuhi. Caranya, dengan mendirikan perpustakaan yang dilengkapi buku-buku yang sesuai dengan dunia anak-anak, dan ini adalah salah satu bentuk dukungan pihak sekolah terhadap program penanaman kegiatan membaca sejak dini terhadap anak.

Maka, dalam aktivitas sehari-hari, minimal ketika berada di lingkungan sekolah, mereka menyukai kegiatan membaca. Dengan demikian, kunjungan ke perpustakaan akan meningkat. Peningkatan pengunjung ke perpustakaan juga merupakan pertanda bahwa kualitas hidup warga-bangsa pada masa mendatang mengarah kepada produktivitas. Sebab, dengan membiasakan membaca, ilmu dan wawasan semakin bertambah sehingga pada masa mendatang mereka mampu menjadi generasi penerus bangsa yang berwawasan luas, arif, dan bijaksana.

Iklim kondusif keluarga

Lingkungan keluarga yang kondusif dengan kebiasaan membaca yang tinggi akan memengaruhi anak-anak mengadopsi kebiasaan itu sehingga membekas dalam dirinya. Berlangganan koran, majalah, dan membeli buku tentunya sangat berguna bagi pembiasaan membaca anak-anak. Maka, dengan iklim kondusif dalam keluarga seperti inilah program membiasakan anak untuk membaca dan berkunjung ke perpustakaan menjadi lebih mudah dilaksanakan.

Dalam tinjauan psikologi behaviorisme, kebiasaan yang dilakukan lingkungan keluarga-bila ditularkan kepada anak-anak-akan membentuk kepribadian sehingga anak menyukai aktivitas membaca. Misalnya, di ruangan keluarga tersedia bacaaan yang dikhususkan untuk konsumsi anak-anak, seperti komik, cerita, koran anak, majalah anak, dan buku panduan untuk anak-anak.

Ketika sedang berkumpul dengan anak-anak, orangtua hendaknya menemani anak membaca buku atau yang lainnya. Ini dimaksudkan agar anak dapat menanyakan dan mendiskusikan materi yang terdapat dalam buku tersebut.

Iklim keluarga yang kondusif-dengan kebiasaan membaca yang tinggi-akan menumbuhkan minat baca dan kunjungan ke perpustakaan dalam diri anak. Bila betul bahwa mencari ilmu dapat meningkatkan derajat seseorang, alangkah baiknya jika mulai saat ini, sebuah keluarga melengkapi rumahnya dengan lemari khusus untuk buku bacaan anak-anak. Anak-anak kemudian diajak mengunjungi toko buku setiap kali bepergian ke luar rumah. Ini untuk menumbuhkan minat baca mereka.

Ketika kegiatan membaca telah membudaya, perkembangan jiwa anak-anak akan sesuai dengan yang diharapkan demi terciptanya budaya membaca dalam diri anak. Setelah di dalam dirinya terpatri minat baca yang tinggi, boleh jadi itu akan mendukung program hari berkunjung ke perpustakaan yang diadakan Badan Perpustakaan Daerah, beberapa minggu ke belakang. Semoga!

SITTA R MUSLIMAH Pemerhati Perkembangan Anak Usia Dini; Pengajar di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN SGD Bandung

sumber : kompas