Press "Enter" to skip to content

Merajut Asa di Awal Tahun 2013

OrangMajusi1Oleh Bernad Simamora

Tahun 2012 telah berlalu, sekarang kita menapaki tahun 2013. Selamat Tahun Baru! Memasuki tahun yang baru, mungkin ada yang mengatakan biasa saja. Hanya pergantian tahun, sebagai akibat bulan berganti, oleh minggu dan hari berganti. Demikian saja! Pergantian tahun sepertinya baisa-biasa saja, pada hal sebenarnya itu hal yang luar biasa! Mengapa? Life more than like a journey. Bila hidup hanya seperti sebuah perjalanan, masih bisa di-repeat, di-rewind, atau di-forward. Tahun 2012, tidak bakal bisa di-repeat; begitu pun semua waktu yang telah berlalu.

Minggu ini adalah Minggu Epifani, yaitu peristiwa perjumpaan Yesus dengan orang-orang Majus. Kisah ini mengajak kita menghayati napak tilas perjalanan para majusi. Mereka bangsa yang datang dari tempat yang jauh dengan susah payah ingin bertemu Yesus. Mereka sangat merindukan Mesias (Yesaya 60:1-7). Mereka orang yang berdoa seperti doa Salomo dalam Mazmur 72:1-7, dan memiliki iman bahwa keselamatan berlaku bagi semua orang yang percaya kepada Kristus.

Kisah para majusi adalah simbol dari setiap orang yang memiliki kerinduan mencari, dan kesediaan berkurban demi menemukan dan menyembah Tuhan dalam hidupnya. Kisah para majus adalah kisah yang patut dihayati oleh semua orang yang rindu menyembah Tuhan dalam hidup mereka. Kisah para majus adalah kisah hidup kita.

Kedatangan para Majusi merupakan pertanda bahwa di dalam Kristus, nubuat-nubut Perjanjian Lama digenapi. Dalam Mazmur 72:10 dicatat, bahwa bangsa-bangsa asing akan membawa upeti dan persembahan kepada Mesias. Dan, waktu Yesus masih kecil, bangsa asing benar membawa persembahan bagiNya. Allah menjamin bahwa di dalam Kristus, semua janji-janji-Nya terpenuhi melalui siapa saja, bangsa mana saja. Semua janjinya atas kita akan digenapi, bahkan kita tidak tahu digenapi melalui siapa dan dengan cara apa.

Sebetulnya, para imam tahu di mana Mesias itu akan lahir. Ini terbukti ketika Herodes bertanya, mereka langsung bisa menjawabnya. Di Betlehem! Namun, ternyata ritual ibadah dan pengetahuan tentang kitab suci hanya sekedar tradisi. Pemberitaan Injil Kristus disambut lebih baik oleh orang-orang bukan Yahudi (Efesus 3:1-12). Hal ini menjadi peringatan juga untuk kita. Natal, yang dirayakan saban tahun dan ritual liturgi gerejawi yang dilakukan setiap saat belum tentu mengasah kepekaan kita memberi ruang yang paling terhormat bagi Sang Mesias di lubuk hati yang terdalam. Apakah kita yang tampaknya “kristiani” benar telah lahir Kristus?

Meskipun Orang Majus adalah orang yang bernalar dan sekaligus berhikmat, mereka tidak menggunakan akal budinya sebagai penentu kebenaran dan petunjuk bagi kehidupannya. Mereka mendengar suara dan petunjuk Tuhan! Sepandai-pandainya manusia, masih banyak perkara yang tidak terselami oleh rasionya. Ada orang bijak mengatakan: “Jangan berusaha memasukan Kerajaan Sorga kedalam kepalamu. Tetapi masukkanlah kepalamu ke dalam Kerajaan Sorga, maka engkau akan menikmati kasih dan karunia-Nya!”

Perilaku Majusi ini datang menyembah dan memberikan persembahan memberi contoh kepada kita bahwa mengakui Yesus sebagai Raja Mesias harus sesuai dengan perilaku yang terjadi. Sejak awal keberangkatannya, para Majusi sudah menyakini akan pertanda lahirnya Sang Raja. Mereka mencarinya, dan setelah menemukanNya, mereka menyembah-Nya. Mereka pun memberikan persembahan! Maka, mengaku Yesus sebagai Raja dan Mesias, kita harus sujud di hadapanNya serta memberikan apa yang terbaik untuk-Nya, yaitu hidup kita sendiri dan karya terbaik kita!

Memasuki tahun 2013 yang tidak kita ketahui apa yang bakal terjadi, rasanya kita harus merajutnya dengan asa dan keyakinan yang terus dibangun. Semangat itulah yang semestinya menjiwai perjuangan keras kita mengisi lembar-lembar perjalanan di tahun yang baru ini. Agar kita mampu memberikan dan karya terbaik kita dan hidup kita sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada-Nya.

Disarikan oleh Bernad Simamora dari Kotbah Pdt Dr. Albertus Patty, Minggu 6 Januari 2013 di Indonesia GKI Jalan Maulana Yusuf Bandung.