Press "Enter" to skip to content

Merdeka, Milik Bersama

Oleh ANDI RIZA HIDAYAT

Milik siapakah sebenarnya kemerdekaan itu? Kemerdekaan bukan milik perorangan maupun satu kelompok saja, melainkan milik semua warga tanpa terkecuali. Itulah semangat yang ingin dibangkitkan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia Sumatera Utara.

Bagi Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia, peringatan kemerdekaan tahun ini merupakan acara yang ketiga kalinya mereka gelar. Acara tahun ini berlangsung di simpang Jalan Bogor dan Jalan Barus, Medan. Untuk menghindari gangguan, panitia melarang siapa pun menghidupkan telepon seluler. Mereka juga meminta para pedagang makanan menghentikan aktivitasnya.

Berada di pusat perniagaan, upacara tetap berlangsung hikmat hingga pekik merdeka, pembawa acara mengakhiri acara itu. Sambil menyahuti pekik, sebagian siswa pengibar bendera haru, wajahnya seperti mau menangis. Seakan mereka selesai melaksanakan tugas berat. Semua bersalaman, satu sama lain sambil memekikkan ”merdeka!”

Kawasan Pasar Baru berpenduduk 90 persen masyarakat Tionghoa keturunan Hokkian. Namun, peserta upacara bukan hanya keturunan Tionghoa, melainkan juga warga keturunan India, Melayu, Batak, dan Jawa.

Warga keturunan India, Suguraj (40), mengikuti upacara bendera teringat masa sekolahnya. Upacara seperti ini belum pernah dia lakukan setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Bunga Bangsa, Medan.

”Saya senang, ini positif sekali,” tutur pria yang nenek moyangnya berasal dari India.

Lurah Pasar Baru, Kecamatan Medan Kota, Medan, Des Abbas tak bisa membendung rasa bahagianya. Pria bertubuh subur ini mengenakan seragam putih-putih lengkap dengan peci hitam. Di wilayah administratifnya, baru pertama kali ini warga dari berbagai suku bangsa upacara bersama. Tidak ada perbedaan apa pun, semuanya bersama dalam satu tujuan, merenungi makna kemerdekaan.

Johan Tjongiran, warga keturunan Tionghoa bermarga cong, menyatakan masih banyak persoalan kemasyarakatan yang belum selesai. Warga, khususnya Tionghoa, di Medan belum sepenuhnya merasa aman. Dengan alasan yang tidak jelas, sekelompok masyarakat masih kerap mengutip pungutan yang banyak ragamnya.

”Kami sering dinilai warga tidak mau berbaur. Karena itu, mereka meminta ongkos sosial pada kami. Sampai sekarang bentuk kutipan seperti itu masih berjalan,” katanya.

Selain upacara bendera, panitia menyematkan tanda penghargaan kepada 17 mantan pejuang kemerdekaan.