Press "Enter" to skip to content

Pasokan Listrik Macetkan Ekspansi Usaha IKM

Pengembangan klaster industri kecil dan menengah atau IKM masih banyak menemui kendala. Pemerintah tidak bisa sekadar mencanangkan program kredit usaha rakyat karena implementasi program ini tetap menghadang pengembangan IKM.
Berbagai kendala itu terungkap dalam safari Direktorat Jenderal IKM Departemen Perindustrian pada sejumlah IKM di Jawa Barat dan Jawa Tengah hari Sabtu-Minggu pekan lalu.
Produsen susu bubuk kedelai, Yudi Ahmad Bayhaq, di Bandung yang empat bulan ini mengembangkan produk minuman instan bandrek dan bajigur mengatakan, tingginya permintaan minuman instan ini belum menggerakkan dirinya guna memanfaatkan kredit usaha rakyat (KUR). Akibatnya, pengembangan usaha masih bergantung putaran uang muka dari konsumennya.
Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko mengatakan, pengembangan IKM dengan sistem klaster masih dihadang persoalan, antara lain masalah sumber daya manusia (SDM). Hingga kini, SDM belum mampu memproduksi barang yang laku jual.
Permodalan juga menjadi persoalan klasik. Program KUR diadakan, tetapi tetap terbatas. Dalam praktiknya, bank tetap meminta agunan dari IKM.
Menurut Triyono, kebanyakan KUR yang dikucurkan masih di bawah Rp 5 juta, sementara IKM yang kini terus berkembang, seperti industri rumahan bulu mata, rambut palsu, gula merah, knalpot, garmen, dan kayu di Purbalingga, membutuhkan suntikan modal ratusan juta rupiah.
Ada juga kendala lain, yaitu berupa keterbatasan peralatan produksi dan pasar.
Direktur Jenderal IKM Depperin Fauzi Azis mengatakan, KUR sebetulnya bisa diperoleh sampai Rp 500 juta. Namun, bank kini memang terkadang takut menyalurkan kredit ratusan juta karena takut bergesekan dengan program kredit perbankan lainnya.
Lain halnya produsen getuk goreng di Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Kendala pengembangan klaster adalah SDM dan pemasaran. Walaupun permintaan tinggi, terutama menjelang akhir pekan, generasi penerus yang akan mengembangkan usaha getuk ini akan makin punah.
H Trisno Hartowo, generasi ketiga produsen getuk goreng Asli Tohirin, mengatakan, kini generasi penerus yang diharapkan dapat menciptakan inovasi-inovasi lebih suka merantau. Sementara generasi tua juga kesulitan mencari SDM.
Sementara itu, perajin anyaman pandan dan serabut kelapa di Kebumen belum mampu menerobos pasar ekspor secara langsung. Pemasaran masih melalui pengepul sehingga harga masih cenderung ditekan pengepul.
Tunda ekspansi
Kim Ir, seorang investor Korea yang mengembangkan produksi rambut palsu PT Boyang Industrial di Purbalingga, mengatakan, ekspansi usaha sesungguhnya sudah disiapkan matang untuk mendorong peningkatan produktivitas dan penciptaan tenaga kerja lokal, tetapi kendala pasokan listrik masih bikin pusing.
Padahal, usaha penanaman modal asing dengan sistem plasma ini sudah mampu menghasilkan rambut palsu kualitas ekspor untuk memenuhi permintaan Amerika Serikat. Permintaannya mencapai 250.000 potong per bulan. (OSA)
Sumber : kompas