Press "Enter" to skip to content

Pidato Kenegaraan, 49 Kali Tepuk Tangan untuk Yudhoyono

Pukul 11.00, setelah lebih dari satu jam membacakan pidato kenegaraan di Gedung DPR, Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta maaf. Kacamata baca dibuka. Sapu tangan biru dikeluarkan dari saku celana. Keringat yang mengucur di dahinya, yang kini lebih halus, diseka sejenak.

”Kalau Presiden-nya berkeringat, artinya kan serius, Pak,” ujar Presiden sambil tertawa dalam sidang paripurna di Gedung Nusantara, DPR, Jumat (15/8).

Sebagian besar anggota DPR memberi maaf kepada peminta, sambil ikut tertawa. Setelah itu, anggota Fraksi Partai Demokrat memulai tepuk tangan disahut anggota fraksi lain. Mereka bertepuk tangan masih sambil tertawa.

Tepuk tangan ini adalah tepuk tangan ke-44 dari total 49 tepuk tangan yang mengiringi pembacaan pidato kenegaraan selama 1 jam 18 menit. Di hampir setiap tepuk tangan, anggota Fraksi Partai Demokrat berinisiatif memulainya.

Tepuk tangan terdengar setiap Presiden menyebut capaian atau kebisaannya selama empat tahun memerintah. Tepuk tangan meriah dan panjang pertama diberikan saat disebut ”Indonesia pasti bisa!”. Kalimat ini seperti hendak menjawab jargon kampanyenya dalam pemilihan presiden tahun 2004, ”Bersama kita bisa!”

Sepanjang berpidato, Presiden merinci bukti kebisaannya. Pengurangan jumlah penganggur dan jumlah rakyat miskin disebut pertama. Berdasarkan datanya, penganggur turun menjadi 8,5 persen pada Februari 2008 dari 10,5 persen pada 2006. Kemiskinan turun menjadi 15,4 persen pada Maret 2008 dari 17,7 persen pada 2006.

Dengan data itu, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu berusaha menunjukkan terwujudnya perubahan, seperti yang dijanjikan semasa kampanye pemilihan presiden 2004. Kesejahteraan rakyat meningkat bersamaan dengan meningkatnya pendapatan negara menjadi Rp 1.022 triliun, atau tertinggi dalam sejarah bangsa ini.

Selama empat tahun memerintah, gaji pegawai negeri sipil terendah naik 2,5 kali lipat dari Rp 670.000 menjadi Rp 1.721.000 per bulan. Gaji guru terendah saat ini naik menjadi Rp 2.000.000.

Bersamaan dengan uraian capaian ini, Presiden menunjukkan keringat di dahinya kepada peserta sidang paripurna. Ingin ditunjukkan, capaian itu tidak dengan mudah diraih. Dalam bahasa Presiden, capaian itu tidak diraih di bawah terang benderangnya bulan purnama.

Saat berdiri berpidato, Presiden mengenakan setelan jas hitam dengan dasi berwarna biru langit, warna Partai Demokrat yang didirikan tahun 2003. Wakil Presiden M Jusuf Kalla duduk di belakangnya dengan setelan jas serupa, namun dengan dasi berwarna kuning, warna Partai Golkar yang diketuainya.

Meski tidak ikut-ikutan menyeka keringat, Kalla tahu persis bagaimana usaha keras pemerintah selama empat tahun terakhir untuk mewujudkan janji perubahan. Sejak awal tahun, kepada kader Partai Demokrat, Kalla minta didaftar capaian dan kebisaan pemerintah. Menurut dia, incumbent hanya akan didengar kampanyenya jika menyebut capaian dan kebisaan.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar yang menjodohkan Yudhoyono dan Kalla pada Pemilu 2004 mengemukakan wajar jika dalam pidato kenegaraan menjelang akhir pemerintahan, Presiden ingat janji kampanyenya.

”Mengenai apakah ini bagian dari kampanye atau bukan, yang jelas beliau mengatakan kebisaan-kebisaannya,” ujar Rachmat.

Keringat di dahi Presiden telah diseka. Dari sejumlah indikasi yang mengemuka, Yudhoyono tampaknya siap menuju pemilu dan pemilihan presiden 2009, yang juga telah lebar dibuka gerbangnya. (INU).

sumber : kompas