Press "Enter" to skip to content

Rakyat Butuh Pertumbuhan yang Berkualitas

Oleh Nur Hidayati

Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2008 lebih tinggi dari dugaan. Namun, angka itu tidak cukup melegakan ketika diterjemahkan dalam dinamika sektor riil. Di balik laju pertumbuhan itu, kesenjangan ekonomi yang kian lebar mengancam. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang.

Survei Reuters terhadap ekonom dan analis 13 bank serta perusahaan sekuritas memperhitungkan pertumbuhan triwulan II-2008 akan berada di posisi 6,1 persen. Badan Pusat Statistik, Kamis (14/8), mematahkan angka prediksi itu dengan mengumumkan pertumbuhan 6,4 persen pada triwulan II-2008 dibandingkan dengan triwulan II-2007 (year on year).

Laju pertumbuhan terkuat, seperti terjadi selama beberapa tahun terakhir, didorong oleh sektor pengangkutan dan komunikasi, kelistrikan dan gas, serta keuangan dan perdagangan.

Terjadi kesenjangan pertumbuhan antara sektor-sektor jasa (non-tradable) itu dan sektor tradable, seperti industri pengolahan dan pertanian.

Padahal, sektor tradable menjadi andalan untuk menyerap tenaga kerja dan menekan kemiskinan. Pertumbuhan sektor jasa yang pesat tentu bukan berita buruk. Namun, menjadi problem besar ketika pertumbuhan sektor jasa justru dibarengi dengan perlambatan sektor tradable.

Ekonom Faisal Basri mengingatkan, ketimpangan antara sektor jasa dan sektor tradable akan memperparah kesenjangan pendapatan yang sudah terbentuk dalam masyarakat.

Kesenjangan pendapatan ini antara lain tercermin dengan melemahnya konsumsi rumah tangga pada triwulan II-2008. Melemahnya konsumsi domestik bisa dipahami terjadi karena tingginya laju inflasi dan kenaikan harga bahan bakar minyak.

Pengeluaran rumah tangga untuk makanan pada triwulan II-2008 hanya tumbuh 0,2 persen. Padahal, pada kurun waktu itu, inflasi makanan mencapai 15 persen. Masyarakat berpendapatan rendah yang paling terpukul dengan inflasi makanan. Mereka terpaksa mengerem pengeluaran untuk makanan.

Sebaliknya, konsumsi non-makanan tumbuh cukup kuat, 1,73 persen. Ini, antara lain, ditandai dengan pertumbuhan penjualan sepeda motor dan mobil. Peningkatan belanja non-makanan tentu tidak terjadi pada kalangan rakyat miskin atau hampir miskin.

Faisal menjelaskan, kenaikan konsumsi non-makanan di Jawa sejalan dengan peningkatan pendapatan sebagian masyarakat dari sektor-sektor jasa, seperti komunikasi.

Di luar Jawa, penguatan konsumsi non-makanan didorong oleh booming harga komoditas.

Nilai ekspor minyak sawit mentah, yang terutama diproduksi di luar Jawa, misalnya, tumbuh 137 persen pada semester I-2008 (year on year), sedangkan volume ekspornya naik 33,6 persen. Sementara nilai ekspor karet dan produk karet terdongkrak 32,2 persen meskipun volume ekspornya hanya naik tipis, 2,4 persen.

Kuatnya pertumbuhan perkebunan membuat sektor pertanian mencatat angka pertumbuhan 4,6 persen pada triwulan II-2008. Namun, terjadi kesenjangan cukup tajam antara subsektor perkebunan dan kehutanan yang tumbuh 62 dan 20 persen, dengan subsektor tanaman pangan dan peternakan yang pertumbuhannya justru merosot, masing-masing minus 5 dan minus 3,9 persen.

Laju otomotif

Siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis lalu, menggarisbawahi peningkatan investasi sebesar 14,1 persen pada triwulan II-2008 sebagai kabar gembira. Peningkatan investasi ini sejalan dengan laju pertumbuhan impor yang mencapai 17,2 persen, lebih tinggi dari ekspor yang bertumbuh 15,8 persen.

Komposisi impor terbesar adalah berupa barang modal, seperti permesinan, kendaraan, dan komponennya. Laju impor barang modal itu terjelaskan dengan tingginya pertumbuhan sektor manufaktur tertentu, yakni otomotif, industri makanan, semen, pupuk, dan produk karet.

Sektor-sektor manufaktur yang tumbuh relatif tinggi ini melayani permintaan domestik sekaligus pasar ekspor.

Penjualan mobil di pasar domestik pada semester I-2008, menurut Bank Indonesia, sudah mencapai 580.510 unit, naik tajam dibandingkan dengan penjualan mobil tahun 2007 yang hanya mencapai 433.340 unit.

Sementara data Badan Pusat Statistik menunjukkan, nilai ekspor kendaraan pada semester I-2008 meningkat 55,8 persen. Volume ekspornya pun tumbuh 45 persen. Tak mengherankan jika industri alat angkut mencatat pertumbuhan tertinggi.

Meski demikian, kinerja gemilang ekspor otomotif belum diikuti oleh peningkatan signifikan ekspor komponen, mesin peralatan listrik, dan pesawat mekanik.

Padahal, kinerja ekspor komponen itulah yang menandai posisi Indonesia dalam jaringan produksi regional dan global.

Meskipun otomotif dan industri pengolah komoditas primer tumbuh tinggi, pertumbuhan industri manufaktur secara total justru makin melemah.

Pada triwulan II-2007, industri pengolahan masih tumbuh 5,5 persen, sedangkan pada triwulan II-2008 pertumbuhannya melambat menjadi 4,1 persen.

Sektor industri yang melemah terutama justru industri padat karya, yang menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja. Pelemahan ini tergambar pula pada kinerja ekspor.

Nilai ekspor pakaian jadi bukan rajutan, yang menjadi andalan industri pertekstilan, pada semester I-2008 hanya tumbuh 1,3 persen karena volume ekspornya turun minus 2,2 persen.

Penurunan volume ekspor lebih tajam, minus 21 persen, terjadi pada kayu dan barang dari kayu. Padahal, produk ini berada di peringkat 10 produk ekspor nonmigas terbesar. Meskipun harga di pasar ekspor meningkat, penurunan volume sebesar itu membuat nilai ekspor produk ini turun 9 persen.

Nilai ekspor bahan kimia organik juga anjlok 22 persen karena volume ekspornya menyusut 29,5 persen.

Lapangan kerja

Survei ketenagakerjaan BPS Februari 2008 menunjukkan, 42,6 persen dari 102 juta angkatan kerja diserap oleh sektor pertanian, 12,4 persen bekerja di sektor industri, dan 20,6 persen bekerja di sektor perdagangan.

Sementara sektor transportasi dan komunikasi yang paling kuat mendorong laju pertumbuhan ekonomi hanya menyerap 6 persen dari total pekerja. Sektor konstruksi dan jasa keuangan yang juga tumbuh tinggi masing-masing menyerap 4,7 dan 1,4 persen dari total pekerja.

Terkait dengan kesejahteraan dan jaminan keberlanjutan kerja, lapangan kerja yang lebih berkualitas terutama disediakan oleh sektor industri. Sebaliknya, pertanian dan perdagangan merupakan lahan penghidupan utama bagi pekerja informal.

Sampai saat ini, sekitar 70 persen pekerja masih berada di sektor informal.

Penciptaan lapangan kerja formal yang lebih luas itulah syarat mutlak pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Saat ini, harga minyak dan komoditas mulai melemah. Laju permintaan ekspor yang selama ini menopang pertumbuhan juga perlu diprediksi akan melambat karena resesi ekonomi AS diperkirakan mulai meluas ke Eropa. Pada dua kawasan itulah ekspor utama Indonesia diserap.

Booming komoditas seharusnya menjadi momentum untuk membenahi akar masalah perekonomian riil masyarakat. Ketimpangan pendapatan karena sektor-sektor tradable yang makin melemah tidak bisa dilipur sekadar dengan angka pertumbuhan yang tinggi.

Sumber : kompas