Press "Enter" to skip to content

Sekali Lagi, Akurasi Data Penting Untuk Salurkan BLT

Akurasi data kembali dilihat sebagai persoalan utama dalam rencana penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai kompensasi dari kenaikan harga BBM. Salah satu peneliti dari Unit Pengkajian dan Penelitian Potensi daerah Institut Teknologi 10 November (UP3D-ITS) Tuti Agnes mengatakan ketepatan jumlah angka sasaran BLT, yaitu orang-orang miskin dan sangat miskin, sangat rendah yaitu sebesar 80 persen meski ketepatan sasaran Program Kompensasi Pengurangan Subsidi (PKPS) BBM yang diselenggarakan di tahun 2005 dinilai cukup baik.

“Sebenarnya sasaran dari program PKPS BBM itu bagus, angkanya sekitar 94 persen itu. Nah kemudian untuk ketepatan jumlahnya rendah. Mengapa? Karena jumlah orang miskin di desa itu lebih rendah dibanding data BPS. Setelah kami cek, memang ternyata kriteria miskinnya beda, antara yang dibuat Pak RT dengan kriteria miskin BPS,” ujar Tuti dalam acara persiapan sosialisasi kenaikan harga BBM di Jakarta, Senin (12/5).

Selain itu, kendala di lapangan dalam mengumpulkan data orang miskin dan sangat miskin tersebut sangat rentan dengan kesalahan. “Contohnya saja, Pak RT tidak memiliki power untuk melawan warganya yang berebut untuk didaftarkan miskin. Dia pikir, daripada dia dimusuhin oleh warga, lebih baik didaftarin,” tambah Tuti.

Tuti mengharapkan meski waktu tinggal tidak lama lagi, akurasi data harus menjadi fokus pemerintah dalam penyaluran BLT. Seperti yang dipaparkan oleh Deputi Bidang Evaluasi Kinerja Pembangunan Nasional Bambang Widhianto sebelumnya, berdasarkan evaluasi penyaluran BLT 2005-2006, cakupan BLT di Indonesia merupakan jumlah yang terbesar di dunia, yaitu sebesar 19.1 juta jiwa. Selain itu, akurasi data dapat memperkecil angka insiden dalam pelaksanaan BLT baik karena panjang dan lamanya antrian, kekerasan atau kecelakaan menuju kantor pos terdekat. (LIN)

sumber : kompas