|
Ditulis oleh Saifur Rohman
|
|
Lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” karya WR Soepratman terlewat dinyanyikan dalam pidato kenegaraan di Jakarta, Jumat (14/8). Setelah diinterupsi, pada akhir acara Ketua DPRD Agung Laksono mengajak peserta menyanyikan ”Indonesia Raya”. Ini menandakan, acara simbolik, rutin, dan ritual telah melupakan simbol penting sejarah kehidupan berbangsa.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Ditulis oleh P ARI SUBAGYO
|
|
Apakah tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet Rusia merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, tuan-tuan yang terhormat! Di seberang ’jembatan emas’ yang diadakan oleh Lenin itulah Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolah, baru mengadakan Creche, baru mengadakan Djnepprostoff!” (Soekarno di depan sidang BPUPKI, 1 Juni 1945).
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Dwi As Setianingsih
|
|
Dimaki bagai kacang yang lupa pada kulitnya dan dituduh sebagai pengkhianat bagi kaum Tionghoa, tak membuat langkah Junus Jahja menyebarkan semangat pembauran surut ke belakang. Baginya, nasionalisme adalah harga mati yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Yonky Karman
|
|
Meraih kemerdekaan politik tidak berarti kedaulatan terjamin. Beberapa bulan setelah proklamasi, tentara Inggris mendarat di Surabaya, 25 Oktober 1945, mewakili pasukan Sekutu. Misi mereka adalah melucuti tentara Jepang dan mengembalikan Indonesia kepada Pemerintah Belanda sebagai jajahannya. Rakyat menolak dijajah kembali.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Budiman Sudjatmiko
|
|
Oleh Budiman Sudjatmiko Republik Indonesia didirikan di atas sebuah niat baik (untuk dirinya dan dunia), 64 tahun silam. Niat baik itu memerintahkan saya dan Anda untuk membentuk pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia, apa pun latar belakangnya, dan yang melindungi tanah tumpah darah tempat kita berpijak sekarang.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Bernard Simamora
|
|
Oleh Benny Susetyo Sudahkah bangsa ini merdeka secara utuh bukan dalam makna ritual kita rayakan setiap tahun? Merdeka dalam arti bebas dari apa? Dengan tepat Pramoedya Ananta Toer melukiskannya dalam Menggelindingi 1. Dia berujar, Angkatan Tua kurang keberanian dan mengalami kemiskinan daya cipta. Ini membuat bangsa ini miskin ide dan gagasan untuk keluar dari lingkaran kepedulian. Bangsa ini masih terjebak dalam lingkaran untuk memikirkan kesukuan, keagamaan, dan ”diriku” semata. Padahal, itu semua hanya identitas penuh kepalsuan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Bernard Simamora
|
|
Oleh Fadly Rahman Merdeka adalah persoalan eksistensi. Salah satunya, eksistensi manusia yang menyadari kediriannya sebagai bagian dari sebuah bangsa. Lalu, apa hakikat bangsa Indonesia yang merdeka?
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |