| Pascapilkada, Demokrasi Universal Tidak Tecermin |
| Ditulis oleh Bernard Simamora | |||||||
|
Perkembangan demokrasi lokal pascapelaksanaan pemilu kepala daerah secara langsung cukup negatif. Budaya demokrasi yang terbentuk tidak mencerminkan demokrasi universal, seperti budaya konsensus, toleransi, dan penghormatan terhadap hukum. ”Perkembangan demokrasi yang tak mencerminkan demokrasi universal itu membuat jika ada sedikit perbedaan, cara penyelesaiannya cenderung dengan konflik karena tak berkembangnya budaya konsensus,” kata guru besar ilmu administrasi Universitas Indonesia, Eko Prasojo, kepada Kompas di Jakarta, Rabu (4/11). Hal itu diungkapkan Eko berdasarkan penelitiannya tentang demokrasi lokal di Sumatera Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Bali. Buruknya perkembangan demokrasi lokal itu terlihat dari aspek budaya, aktor, dan lembaga demokrasi lokal. Budaya demokrasi yang melahirkan konsensus, toleransi, dan penghormatan hukum cenderung tak terbentuk. Aktor demokrasi yang digambarkan para elite lokal, baik kepala daerah maupun anggota DPRD, umumnya hanya mementingkan diri mereka sendiri dan abai terhadap rakyatnya. Lembaga demokrasi lokal, seperti DPRD dan lembaga swadaya masyarakat lokal, tidak menjalankan fungsi pengawasan pemerintahan dengan baik. ”Lemahnya pengawasan DPRD karena secara kelembagaan DPRD dan kepala daerah sama-sama dipilih langsung. Akibatnya, fungsi pengawasan DPRD tak bisa berjalan,” ungkap Eko, yang juga anggota Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Demokrasi lokal Secara terpisah, peneliti Komite Pemantau Pelaksana Otonomi Daerah, Robert Endi Jaweng, mengatakan, kunci perkembangan demokrasi lokal di suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat pemberdayaan atau partisipasi politik masyarakat setempat. Faktor tersebut menjadi kunci pembeda keberhasilan pelaksana demokrasi lokal antardaerah. Di Jawa dan Sumatera, organisasi massa keagamaan biasanya menjadi pendorong pemberdayaan masyarakat dalam politik. ”Di Indonesia timur, peran itu biasanya diambil akademisi lokal maupun LSM lokal,” kata Endi Jaweng. (SIE/MZW) Dikutip dari : Kompas
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |