| Safari pada Tahun Politik |
| Ditulis oleh Riasha Putri |
|
Tahun 2008 hampir berlalu dengan hanya dua minggu tersisa. Tahun yang melelahkan dengan banyaknya energi yang terkuras untuk menangani sejumlah persoalan yang datang dan pergi. Persoalan tidak hanya muncul dari dalam, tetapi juga dari luar. Masalah dari luar berupa krisis keuangan global yang berdampak ke Indonesia, disebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti gelombang tsunami dengan episentrum di Amerika Serikat. Menurut Wakil Presiden M Jusuf Kalla, krisis keuangan global seperti banjir kiriman saja. Di luar masalah keuangan global, Presiden Yudhoyono menyebut tahun 2008 sebagai tahun politik. Tahun politik dinilainya sesuai dengan kenyataan banyaknya kegiatan politik untuk pemanasan menjelang tahun 2009. Tahun 2009 disebut Presiden Yudhoyono sebagai tahun pemilihan umum. Menengok catatan selama setahun terakhir, tahun 2008 cukup melelahkan. Dalam rentang 50 minggu, lebih dari 50 kota, kabupaten, dan provinsi dikunjungi Presiden Yudhoyono. Jika dirata-rata, setiap minggu, Presiden yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini berada di luar Jakarta. Tiga provinsi yang paling kerap dikunjungi Presiden bersama rombongannya, mulai dari yang paling kerap adalah Jawa Barat (15 kali), Jawa Tengah (delapan kali), dan Jawa Timur (tujuh kali). Di luar ketiga provinsi itu, Bali adalah provinsi terkerap dikunjungi berikutnya dengan tujuh kali kunjungan. Tiga provinsi yang terkerap dikunjungi adalah provinsi gemuk jumlah pemilih tetapnya menurut data Komisi Pemilihan Umum, yaitu Jabar dengan 29.030.012 pemilih, Jateng (26.220.227), dan Jatim (29.294.127). Tiga provinsi ini pada Pemilu 2004 adalah lumbung suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Golkar. Bali juga kerap dikunjungi karena menjadi tujuan utama sejumlah pertemuan internasional yang dihadiri Presiden. Selain itu, Bali adalah provinsi yang menempatkan Partai Demokrat sebagai partai ketiga terbesar peraih suara pada Pemilu 2004. Untuk lebih dari 50 wilayah yang dikunjungi Presiden selama 50 minggu itu, acara terbanyak adalah terkait Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. PNPM Mandiri adalah program berdana triliun rupiah untuk mengurangi jumlah warga miskin dan penganggur. Tahun 2004 anggarannya Rp 19 triliun, 2005 (Rp 24 triliun), 2006 (Rp 41 triliun), dan 2007 Rp 51 triliun. Dalam peninjauan realisasi PNPM, 5 Maret 2008, di Bogor, Jabar, Presiden dengan data Badan Pusat Statistik membalas kritik tentang banyaknya jumlah warga miskin dengan dasar data Bank Dunia. Selain banyaknya keriaan, hiruk-pikuk, dan kabar gembira di setiap kunjungannya, ada kabar buruk juga. Pada 17 April 2008, Presiden datang ke Desa Grabag, Purworejo, Jateng, untuk bertemu petani dan panen perdana padi galur Supertoy HL-2. Empat bulan kemudian, petani Desa Grabag membakar Supertoy HL-2 karena gabuk (hampa). Kasus Supertoy HL-2 mirip dengan kasus blue energy yang tidak terbukti hasilnya. Kedua proyek yang pengenalan kepada publiknya dihadiri Presiden Yudhoyono ini sama-sama dikelola Heru Lelono. Heru adalah salah satu staf khusus Presiden. Banyak capaian dalam lebih dari 50 kali perjalanan. Sambutan marak bendera Partai Demokrat dan anggota Majelis Dzikir SBY adalah salah satu buktinya. Namun, tak ada kemutlakan untuk setiap realitas, ada berkah di setiap musibah. (inu) Sumber: Kompas |