Rabu, 10 Mar 2010
 
 

Naskah Terkini

Teknologi Informasi Untuk Pelayanan Publik Di Kabupaten Humbang Hasundutan
26 February 2010
article thumbnai Oleh : Drs. Bernard Simamora, S.IP, MBA Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dengan berbagai system aplikasinya. Di negara maju, hampir semua...

Login Form



Polling

Beberapa rekan mencalonkan Bernard Simamora jadi Bupati Humbahas 2010-2015, apakah Anda mendukung?
 
UMKM Penggerak Ekonomi Rakyat
Penilaian Pengunjung: / 0
TerjelekTerbaik 
Ditulis oleh Bernard Simamora   

Batik bukan sekadar warisan budaya lagi. Kini batik menjelma sebagai salah satu kekuatan yang menggerakkan perekonomian rakyat. Tren batik pun penting untuk dipertahankan karena banyak menyerap tenaga kerja dan menyumbang devisa negara.

Berdasarkan data Departemen Perindustrian, tahun 2006 terdapat 48.300 unit industri kecil dan menengah di bidang batik yang menyerap 792.300 tenaga kerja. Saat itu nilai produksi batik mencapai Rp 2,9 triliun. Dari jumlah itu, ada devisa Rp 1,1 triliun dari ekspor batik. Tahun 2007 (angka prognosa), jumlah unit usaha meningkat menjadi 50.715 yang melibatkan 831.915 tenaga kerja dengan nilai produksi Rp 3,045 triliun.

”Booming batik ini harus bisa dipertahankan karena menghidupkan pelaku usaha, baik pedagang maupun produsen batik, dan pembatik di daerah,” kata Hasan Basri, pengusaha busana yang juga Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) DKI Jakarta, Selasa (9/9).

Hasan menuturkan, batik telah menjadi sumber ekonomi bagi ratusan ribu orang. Karena itu, selain mempertahankan tren, harus diikuti langkah melestarikan dan mengembangkan batik. Perlindungan melalui paten diperlukan untuk menghindari klaim batik Indonesia oleh negara lain. ”Jangan sampai dikuasai asing karena hasilnya jadi dinikmati orang asing,” katanya.

Batik China

Namun, perdagangan batik dalam negeri saat ini mulai digerogoti ”batik” China. Meskipun karakterisiknya berbeda dengan batik Indonesia, ”batik” China yang sudah diperdagangkan sekitar tiga tahun lalu, antara lain di Pasar Tanah Abang, ternyata juga menarik perhatian. Jika dibiarkan, tidak mustahil usaha batik Nusantara melemah.

Situs www.depperin.go.id menyebutkan, nilai ”batik” China yang masuk Indonesia sejak awal 2008 mencapai Rp 290 miliar. Tahun 2006, nilai produksi batik nasional mencapai Rp 2,9 triliun. Dari jumlah itu, 10 persen terdistorsi ”batik” China. Ini menunjukkan ”batik” China bukanlah ancaman kosong, apalagi batik bukan hanya milik Indonesia. Sejumlah negara, seperti India, Banglades, Sri Lanka, Jepang, Thailand hingga Amerika pun mengembangkan ”batik”. ”Impor batik harus dikurangi. Berikan proteksi pada batik kita,” ungkap Hasan.

Anggota Dewan Pembina Yayasan Batik Indonesia Doddy Soepardi HAR mengatakan, Indonesia tidak perlu khawatir terhadap maraknya ”batik” China sepanjang ada upaya edukasi kepada masyarakat untuk membedakan, terutama dari sisi batik cap atau tulis. ”Kini ada batik mark atau penanda batik sebagai pembeda antara batik tulis, cap, dan kombinasi batik cap dan tulis. Ini untuk memberi jaminan mutu serta melindungi produsen dan konsumen,” kata Doddy.

Menurut Afif Syakur, perancang busana yang juga Ketua III Paguyuban Pecinta Batik Indonesia ”Sekar Jagad”, sejumlah negara memang kini memproduksi batik. Namun, Indonesia memiliki keunggulan lebih dalam hal mencipta motif-motif batik. Ini yang harus dibina selain meningkatkan promosi batik ke luar negeri.

Cara jitu

Anggota Yayasan Batik Indonesia, Mawarzi Idris, menuturkan, Malaysia punya cara jitu mempromosikan batiknya dengan menugaskan tiga kementerian, yaitu Kementerian Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan, Kementerian Pembangunan Usahawan dan Koperasi, serta Kementerian Pelancongan, untuk mengurusnya.

”Mereka meriset pasar mulai dari desain, warna, dan bahan. Bahkan, mengundang rumah mode di Paris dan Roma dan perancang papan atas internasional agar batik mereka diterima di pasar mode dunia dan jadi pilar utama pengembangan ekonomi Malaysia,” kata Mawarzi.

Para pembatik Indonesia tidak perlu berkecil hati. Meskipun beberapa negara juga mengembangkan batik, Indonesia memiliki kekhasan. (ACI/RWN/EKI)

Sumber : Kompas

Comments
Add New Search RSS
accry  - Mencari solusi   |125.163.203.xxx |2009-01-18 06:39:19
Merbaknya batik cina di Indonesia tidak dapat di remehkan begitu saja. Batik
Indonesia sendiri secara Internasional belum terlalu terkenal, sekarang ditambah
dengan munculnya saingan batik di negara sendiri. Ini jelas akan mempengaruhi
pemasaran batik kita. sekarang tinggal bagaimana kita merespon kondisi ini untuk
mempopulerkan batik Indonesia. Apakah itu dengan membuat wisata batik Indonesia
yang memperkenalkan jenis maupun motif-motif batik. baik untuk masyarakat kita
dan juga Internasional. Karena walau bagaimana unggulnya dan kekhasan batik
Indonesia, kalau kalah dalam pemasaran sama saja tak berarti.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:D:):(:0:shock::confused:8):lol::x:P:oops::cry:
:evil::twisted::roll::wink::!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."