Press "Enter" to skip to content

Tawuran dan Hipermaskulinitas

Oleh Sudirman Nasir

Dua surat kabar utama memberitakan tawuran di antara anak muda pada hari ke-14 bulan suci Ramadhan.

Harian Kompas (15/9) melaporkan, perkelahian di Gang Saidin, Jalan Pejajaran Raya, Tangerang, melibatkan remaja yang tergabung dalam Keluarga Besar Putra Putri Polri sektor 131 Ciputat melawan anak-anak muda Bambu Apus. Enam orang tewas tenggelam dan seorang lainnya dalam kondisi kritis di rumah sakit setelah melompat ke situ (danau) di dekat lokasi tawuran karena panik terkepung lawan dan polisi yang hendak membubarkan mereka.

Di Makassar, Tribun Timur (15/9) melaporkan, penyerangan anak-anak muda Kampung Gotong, Tallo, terhadap warga Kompleks Unhas Baraya mengakibatkan sejumlah orang terluka dan enam rumah warga rusak.

Terpinggirkan

Bukan kebetulan bila kedua peristiwa tawuran itu melibatkan kumpulan anak-anak lelaki kalangan menengah-bawah dan terjadi di kawasan yang secara sosial-ekonomi terpinggirkan (Gang Saidin di Tangerang dan Kampung Gotong di Makassar).

Sebagaimana umumnya kawasan menengah-bawah, kedua kawasan itu banyak dihuni anak- anak muda lelaki yang menganggur atau setengah menganggur. Hal ini merupakan salah satu faktor pendorong banyaknya anak-anak lelaki bergabung dalam kumpulan/geng dan rentan terlibat tindak kekerasan dan perilaku berisiko lain (kriminalitas dan penggunaan narkoba).

Dengan menggunakan sudut pandang hegemonic masculinity (Connell, 1987, 2000) tulisan ini ingin menggeledah motivasi banyak anak-anak muda (khususnya anak-anak muda lelaki di kota besar maupun kecil) bergabung dalam kumpulan/geng dan rentan melakukan tindak kekerasan, seperti tawuran.

RaeWyn Connell, sosiolog Australia perintis studi maskulinitas, menyatakan, maskulinitas harus dilihat bukan sekadar sebagai kebalikan feminitas, tetapi harus pula dikaitkan dengan status sosial ekonomi, latar belakang ras/etnik, bahkan orientasi seksual.

Khusus dalam hubungannya dengan status sosial ekonomi, Connell mengungkapkan, anak- anak muda laki-laki dari kalangan menengah ke atas memiliki lebih banyak jalan dan peluang untuk memenuhi ideal-ideal maskulinitasnya (antara lain meraih perhatian lawan jenis, mendapat penghasilan, harga diri, dan gaya hidup memadai) lewat pendidikan dan karier/pekerjaan.

Anak-anak muda laki-laki dari kalangan bawah/miskin yang mengalami keterpinggiran kronik menghadapi banyak kesulitan meraih ideal-ideal maskulinitas. Impitan kemiskinan, kelangkaan lapangan kerja, dan suramnya aspirasi masa depan membuat banyak di antara mereka mengalami kebosanan kronik dan ketiadaan kebanggaan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi seperti itu merupakan pendorong bergabung dalam kumpulan/geng dan terlibat dalam tindak-tindak berisiko, seperti tawuran.

Kumpulan/geng

Menurut Connell, bergabung dalam kumpulan/geng bagi anak- anak muda (khususnya laki-laki) bukan saja mendatangkan reputasi dan gengsi tersendiri di hadapan sebaya maupun lingkungan sekitar, tetapi juga memberi ruang untuk mengatasi kebosanan akibat lemahnya akses pada pekerjaan yang layak.

Kumpulan/geng sering menjadi katalisator untuk meraih keuntungan material, antara lain lewat berbagai kejahatan kecil (petty crimes), seperti pencurian dan penjambretan. Bergabung dengan kumpulan/geng dan terlibat dalam tindak kekerasan, seperti tawuran, juga bisa menjadi salah satu saluran kefrustrasian akibat keterpinggiran sosial ekonomi anak-anak muda itu yang menghambat mereka memenuhi ideal-ideal maskulinitas/kelelakian lewat saluran-saluran konvensional, seperti pendidikan dan pekerjaan yang layak.

Studi Gary Barker (Dying to be Men: Youth, Masculinity and Social Exclusion, 2005) di Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Afrika juga menunjukkan rentannya banyak anak muda laki-laki kalangan menengah-bawah untuk bergabung dalam geng dan mengembangkan maskulinitas destruktif/agresif (hipermaskulinitas).

Barker mengingatkan, kumpulan/geng memberi suasana karnaval (carnivaluesque), suasana keramaian yang membuat mereka untuk sementara melupakan keterimpitan hidup sehari-hari. Selain itu, kumpulan dan geng memberi suasana kebersamaan/ persaudaraan (brotherhood) dengan sesama anggota. Suasana yang bisa membuat mereka sejenak melupakan kelemahan akses pada pekerjaan dan harga diri yang layak.

Berbagai suasana seperti itu gampang membuat mereka merasa memiliki ilusi kekuasaan untuk melakukan tindak kekerasan kepada pihak ”lain” atau ”lawan”. Bulan Ramadhan di Indonesia yang juga sarat dengan suasana karnaval ikut memberi peluang terjadinya tawuran di kalangan anak-anak muda terpinggirkan itu.

Pendekatan terpadu

Penjelasan sosial-ekonomi dan hipermaskulinitas Connell maupun Barker memang tidak mampu menjelaskan mengapa tidak kalah banyaknya anak-anak muda dari kalangan menengah-bawah yang tidak bergabung dalam kumpulan/geng dan tidak terlibat tindak-tindak berisiko, seperti tawuran. Mereka mengingatkan sebagian besar fenomena sosial memang tak lagi bisa dijelaskan memadai lewat kerangka mekanis- kausalitas. Namun, keduanya telah menunjukkan betapa hipermaskulinitas bisa menjadi sebab atau akibat dari keterimpitan ekonomi.

Connell dan Barker mengingatkan bahwa dibutuhkan pendekatan terpadu untuk mengurangi meruyaknya hipermaskulinitas dan perilaku berisiko di kalangan anak-anak muda laki-laki dari kalangan menengah-bawah.

Sekadar memberi hukuman keras terhadap pelaku tawuran, kekerasan, dan kriminalitas tidak memadai tanpa upaya pemerintah dan masyarakat untuk konsisten menanggulangi keterpinggiran struktural anak-anak muda kalangan menengah-bawah itu.

Sudirman Nasir Pengajar di Universitas Hasanuddin, Makassar; Kandidat PhD di Universitas Melbourne, Australia

Sumber : Kompas