Press "Enter" to skip to content

Terminal Leuwipanjang Memprihatinkan

Kondisi Terminal Leuwipanjang dinilai memprihatinkan dan tidak lagi memenuhi syarat menampung angkutan bus, baik untuk lalu lintas antarkota dalam provinsi maupun antarkota antarprovinsi. Hal tersebut diperparah dengan kondisi lingkungan di dalam terminal yang begitu kotor dan jorok sehingga terkesan tidak terawat.
Hal itu terungkap dari tinjauan lapangan anggota Komisi V DPR, Minggu (21/9). Mereka melakukan peninjauan guna memastikan kesiapan sarana dan prasarana transportasi di Kota Bandung menghadapi angkutan Lebaran 2008.
Anggota Komisi V DPR, Mulkan Amin, menyatakan kecewa dengan kondisi Terminal Leuwipanjang. “Sungguh tidak layak menjadi terminal terbesar yang menjadi muara lalu lintas angkutan bus dari dan menuju Bandung. Apalagi, maaf, baunya sangat pesing dan membuat tidak nyaman,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Mulkan, prasarana transportasi di Terminal Leuwipanjang sudah terlalu padat sehingga tidak mampu lagi menampung jumlah angkutan bus. Jika kondisi tersebut dibiarkan, dikhawatirkan peminat angkutan bus di Jawa Barat atau khususnya Kota Bandung semakin sepi.
Wakil Ketua Komisi V DPR Hardi Susilo juga mengaku kecewa dengan persiapan Terminal Leuwipanjang menghadapi angkutan Lebaran. “Sangat jorok, mana ada penumpang yang tahan dengan kondisi seperti itu. Ingat, kita melayani manusia,” ujarnya.
Dana minim
Oleh karena itu, dalam waktu dekat, Komisi V DPR akan memanggil Wali Kota Bandung untuk membicarakan optimalisasi transportasi darat di Bandung. Hardi menyarankan perlu dibuat terminal terpadu yang disesuaikan dengan kondisi kultur setempat, seperti Terminal Giwangan di Yogyakarta. DPR akan mendukung penggunaan APBN guna membangun terminal untuk mengoptimalkan pelayanan publik.
Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Timbul Butar Butar mengakui kondisi Terminal Leuwipanjang yang tidak layak tersebut. Menurut dia, kondisi Terminal Leuwipanjang terlalu semrawut, apalagi setelah dibukanya Tol Purbaleunyi (dulu Cipularang).
“Sejak akses tol dibuka, meskipun jumlah angkutan tak bertambah, kecepatan mobilisasi angkutan bus di terminal menjadi semakin besar. Angkutan yang masuk terminal semakin cepat, padahal angkutan yang ngetem di dalam belum juga berangkat,” katanya.
Selain itu, menurut Timbul, anggaran pemeliharaan Terminal Leuwipanjang sangat terbatas. Untuk tahun 2008, dana pemeliharaan lampu, kebersihan, dan gorong-gorong selama setahun hanya Rp 351 juta.
Mengenai bau tak sedap, menurut Timbul, itu karena sedang ada pembersihan gorong-gorong di dalam terminal. Sedimentasi di dalam gorong-gorong sudah sangat dalam sehingga kotorannya harus dikeluarkan dan dibuang.
Menurut Kepala Dinas Perhubungan Jabar Herli Suherli, Pemprov Jabar telah merencanakan pembangunan terminal terpadu di Gedebage. Di sana, terminal dan stasiun KA dipadukan sehingga lebih representatif dibandingkan dengan kondisi Terminal Leuwipanjang. Biayanya sekitar Rp 399 miliar. (GRE)
Sumber : kompas

One Comment

  1. Dadi Ahmad Dadi Ahmad

    Pak apakah benar terminal leuwipanjang akan dipindahkan ?

    Jika benar lahan bekas terminal akan dijadikan apa?

    Apakah mungkin bisa dijadikan mall atau pusat perdagangan untuk daerah bandung selatan?

    Terima kasih, saya tunggu jawabannya?

Comments are closed.