Press "Enter" to skip to content

Tolak Kenaikan Harga BBM

Sejumlah tokoh nasional sepakat mendorong pembangunan perekonomian bangsa yang berbasis pengembangan sektor pertanian dan perikanan. Pengembangan kedua sektor ini harus sejajar dengan upaya pengembangan berbagai sektor industri untuk kemajuan pembangunan di segala bidang.

Hal itu tercantum dalam deklarasi bersama untuk memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional (KN) yang dilaksanakan di kawasan Monas Jakarta, Minggu (18/5).

Sementara pada peringatan Kebangkitan Nasional di kawasan Tugu Proklamasi Jakarta, mereka mendeklarasikan penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) karena dinilai akan menyengsarakan rakyat.

Sejumlah tokoh nasional dari berbagai elemen mendeklarasikan Kebangkitan Nasional jilid II di kawasan Monas, untuk mengembalikan kemandirian, kewibawaan, dan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.

“Hal itu dilakukan secara konsisten, memperjuangkan terwujudnya pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan transparan, demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang bermartabat dalam mencapai cita-cita mulia bangsa Indonesia, sejajar dengan bangsa-bangsa lain,” kata Presiden Lira (Lumbung Informasi Rakyat) M. Jusuf Rizal.

Deklarasi yang dihadiri ribuan orang itu di antaranya ditandatangani Akbar Tandjung, Aksa Mahmud, Putera Sampoerna, Fadel Muhammad, Fauzi Bowo, Indra J. Piliang, Sandiago Uno, Mohammad Qodari, Syahrial Yusuf, Toto Dirgantoro, Farina Fahmi Idris, Sukartono H.W., Djali Yusuf, Albert Yaputra, dan Elsa Syarief. Sejumlah elemen turut hadir mewakili “Pemuda Jong Sumatera”, “Jong Java”, “Jong Kalimantan”, “Jong Papua”, serta jong generasi muda lain yang datang dari berbagai daerah.

Selain berupaya mengembalikan kemandirian bangsa, deklarasi itu juga berisi empat poin lainnya, yakni tetap mempertahankan semangat persatuan, kesatuan, dan rasa nasionalisme bangsa Indonesia, dalam naungan NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusi dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Poin seterusnya, menempatkan pembangunan pendidikan di segala bidang, sebagai prioritas pembangunan bangsa, demi terwujudnya karakter dan fundamental sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang mumpuni, serta mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain, guna mengejar ketertinggalan tanpa melihat perbedaan status ekonomi, sosial, agama, budaya, dan gender.

Mendorong generasi muda untuk mengambil peran bangkit bersatu, mengisi pembangunan di berbagai sektor, serta mempersiapkan kepemimpinan kaum muda, guna membawa kemajuan, kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Luar biasa

Sementara itu, dalam diskusi bertema “Bangkitlah Negeriku Harapan Itu Masih Ada” yang berlangsung di Jakarta, budayawan Emha Ainun Nadjib mengkritik tema diskusi tersebut.

Dia menyatakan, bukan saja harapan yang masih ada, Indonesia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk bangkit dan punya pengaruh di dunia internasional.

Dia berharap, semua elemen di mana pun di Indonesia agar percaya diri. “Tidak ada Olimpiade Fisika yang tidak dijuarai Indonesia, tidak ada festival kesenian yang tidak dimenangi Indonesia. Jadilah orang yang hebat dan tahu bahwa dirinya hebat,” katanya.

Dia mengakui, kondisi yang tidak menguntungkan saat ini sebagai bagian dari proses bangsa yang dihadapkan pada gerbong sejarah yang luar biasa.

“Gerbong perubahan ini mau tidak mau akan terjadi. Kita akan membangun peradaban baru dan ini tahun yang tepat untuk memulai perubahan peradaban itu,” ujarnya.

Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid menyatakan, Indonesia sukses menjadi “guru” bagi negara-negara lain di dunia sejak pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung 1955.

“Banyak negara di Afrika, Eropa Timur, ASEAN, yang terinspirasi dengan kemerdekaan Indonesia. Tetapi sekarang, negara mereka lebih maju. Malaysia dan Vietnam yang pernah belajar dari Indonesia, sekarang jauh lebih maju dari gurunya,” katanya.

Aksi kebangkitan dengan unjuk rasa diekspresikan elemen Taruna Merah Putih (TMP) di Tugu Proklamasi. Ratusan orang yang sebagian besar kawula muda, membicarakan masalah rencana kenaikan harga BBM dibandingkan dengan substansi kebangkitan nasional. Mereka antara lain Rieke Diah Pitaloka dan Grand Master Utut Adianto.

Ketua Umum TMP Maruarar Sirait bahkan dalam orasi dan pernyataannya, menyerukan kepada elemen organisasi ini untuk menolak dan menggagalkan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. “Tolak kenaikan harga BBM sebab akan menyengsarakan rakyat,” ujarnya. (A-78/A-84)***

sumber : Pikiran Rakyat